Monday, July 1, 2013

Diam-diam Tak Sekadar Diam

Kira-kira satu tahun lalu...
Sore itu, saya memanggil anak2 kelas 2A dan terpaksa mengumumkan pembatalan rencana kami untuk masak bareng. Tadinya, sebagai salah satu bentuk quality time (cailaaah...), antara wali kelas dan murid2 kelasnya, kami akan masak2 bersama, membuat kue dadar alias crépe aneka isi sebagai pengisi waktu setelah ujian kenaikan kelas dan pengisian rapor.

"Maaf, ya. Minggu depan kita batal masak bareng kue dadar," ucap saya kepada Dian, Rozak, Somad, dkk, seusai solat ashar, di tangga masjid Al Insan.
"Ada apa, ustadzah? Kok batal?"

Saya jelaskan bahwa mulai esok harinya, saya harus pamit sepuluh hari mengikuti PLPG di Sukabumi. Sepanjang sepuluh hari di bulan Juni 2012 itu di sekolah bukan hanya anak2 kelas 2A yang terpaksa saya tinggal, melainkan juga ujian kenaikan kelas dan koreksian dua mata pelajaran yang saya pegang. Alhamdulillah, ustadzah Uci yang baik hati sebagai penanggungjawab kurikulum SMP SMART EI bersedia membantu mengganti tanggungjawab saya.

Dian dkk paham; izin kepsek sudah didapat; saya pun berangkat ke Sukabumi. Singkat cerita, PLPG usai (tidak perlu saya ceritakan di sini), dan saya pun kembali ke sekolah. Ujian kenaikan kelas saat itu sudah berakhir.

Materi terakhir IPS Terpadu bersama kelas 2 SMART EI tahun ajaran lalu.

Pagi Senin itu saat saya tiba dari Jakarta, upacara belum dimulai, lapangan depan sekolah masih sepi. Baru beberapa anak yang duduk di tepi lapangan, umumnya para siswa kelas 1 yang masih punya banyak stok "rajin datang awal ke sekolah".
Seorang siswa kelas 1 menghampiri sebelum saya naik ke ruangan saya di lantai 2.
"Assalamu'alaikum, ustadzah. Kok baru kelihatan?" sapanya ramah dengan mata berkilat2 di balik sepasang kacamatanya.
"Wa alaikum salam," balas saya, tertular senyumnya karena anak ini terlihat begitu gembira menyapa. Saya pun mengatakan bahwa saya baru usai menjalankan undangan pelatihan selama sepuluh hari bagi para guru di kawasan Sukabumi.
"Ooo begitu... Pantas saya cari hampir dua minggu, ustadzah nggak terlihat di sekolah."

"Kamu mencari saya? Ada apa?" Maafkan kepo saya yang kumat, sebab saya tidak mengajar kelas anak ini. Jadi cukup geer juga mengetahui ada anak kelas 1 yang cukup rajin "mencari" saya.
"Enggak, Zah. Nggak ada apa2," si ganteng berkulit gelap dan berkacamata ini mendadak salah tingkah. Dia pamit dan berlari ke sisi lapangan tempat teman2nya mulai datang dari asrama. Saya melanjutkan naik dan menyimpan tas saya di ruangan, masih dengan rasa geer ada anak kelas 1 yang memerhatikan ketidakhadiran saya di sekolah. Kalau yang memperhatikan hanya kepsek atau pihak HRD, tidak perlu geer, itu sih tugas mereka, hehe...

Hari berlanjut siang. Saat istirahat solat zuhur dan makan siang, seorang siswa penyendiri dari Sumatera duduk di pojok favoritnya yang terhalang tembok dari pandangan orang lewat. Dia siswa kelas 4, sudah SMA. Saya mengajarnya selama setahun saat dia masih kelas 2. Saat saya melintas hendak membelok ke arah tangga, dia muncul dan menyapa.
"Ustadzah Vera baru sakit, ya?" tanyanya.
"Alhamdulillah, enggak kok. Sehat terus. Kenapa, kok kamu mengira saya sakit?" Demikian guru kepo ini bertanya balik.
"Ooh... Nggak apa2. Saya kira sakit, karena lama nggak kelihatan di sekolah," jawab si rambut ikal bertubuh ramping ini. Nadanya seperti meminta penjelasan. Kembali saya beritahu ttg PLPG, Sukabumi, dll, sebagaimana cerita saya tadi pagi kepada adek kelas 1 SMP itu.

Kakak SMA kelas 4 ini mengangguk-angguk. "Saya baru tahu. Maaf, ustadzah. Saya kira ustadzah pindah kerja."
"Oh, tidak, kok. Kan hanya pelatihan berkala. Minggu depan juga ada ustad lain yang ikut pelatihan seperti ini," saya menyahut sambil menyebut nama seorang guru lain yang mendapat jadwal PLPG berikutnya.
Kakak ini mengangguk lagi. "Iya, alhamdulillah, ustadzah masih mengajar di sini," katanya. Sambil mengucap salam dia berbalik badan, menuju koridor depan lab komputer. Menjawab salamnya, sempat sekilas saya lihat dia tersenyum melangkah dengan gaya khasnya: kepala menunduk dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Langkahnya saya pandangi dari belakang. Sebagian besar siswa dan guru masih berada di kantin bawah untuk makan siang. Sepertinya tidak ada satu pun orang yang saat itu melihat kening saya yang biasanya licin ini jadi berkerut (ahaaayyy...)

Iya, sambil naik tangga, saya memikirkan dua anak yang secara khusus menyapa saya hari ini, yang pernah saya ajar setahun di kelas, dan yang setahun berikutnya akan hadir di kelas saya. Di antara 180an siswa di SMART EI ini, mereka terhitung bukan siswa yang menonjol kehadirannya secara akademik. Kualitas baik yang setahu saya sama2 mereka miliki adalah sikap tenang dan tidak suka mengganggu orang lain. Karenanya mereka tergolong penyendiri... jarang diperhatikan guru atau teman.

Walau begitu, rupanya mereka tidak selalu menyendiri dan diam dengan diri sendiri. Diam2 mereka juga melihat dunia sekitar mereka. Diam2 membuat mereka sadar saat ada sesuatu yang hilang, walau yang "hilang" itu hanya saya yang ikut pelatihan selama sepuluh hari. Dan diam2 pun mereka punya keberanian dan kepedulian untuk menyapa, bertanya langsung, ada apa di balik menghilangnya saya.

Sebagai seorang guru tanpa jabatan struktural, hal seperti ini selalu bernilai besar bagi saya. Ada perasaan hangat yang mengalir di hati, karena diperhatikan oleh mereka, meski dari jauh. Semacam ada cinta tambahan dari sumber yang tidak disangka, energi penguat yang bisa diandalkan saat hati sedang gulana.

Ini memang kisah setahun lalu. Sekarang si adek kelas 1 baru saja naik ke kelas tiga, setahun lalu dia hadir di kelas saya masih dengan rasa riang yang sama, tanpa berisik menonjolkan diri di tengah teman2nya. Dia senang menggambar dan menulis,  dengan kemampuan menarasikan kisah yang mencekam.
Si kakak kelas 4, ah ya... Baru bulan lalu diwisuda sebagai lulusan angkatan 5 sekolah ini. Semester mendatang ia akan menempati kursinya di sebuah PTN di Jawa Barat, yang ia dapat melalui jalur undangan. Itu pun setelah sebelumnya guru2 pembimbingnya sempat mengkhawatirkan kemampuannya lulus Ujian Nasional. Sebuah kekhawatiran yang rupanya berlebihan. Semoga di kampus nanti ia bisa lebih meningkatkan empatinya, dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Karena dalam diam sebenarnya ia punya cukup banyak cinta bagi dunia.

Monday, June 10, 2013

Kunjungan ke Sekretariat ASEAN dan @america

Hari ini adalah hari terakhir pembelajaran semester genap di SMART Ekselensia Indonesia. Mumpung juga saya sudah menjadwalkan sejak awal semester akan ada kunjungan ke Sekretariat ASEAN, alhamdulillah hari ini jadwal tersebut terpenuhi.

Sebanyak 34 siswa kelas 2 yang sedang mempelajari Organisasi Internasional dan Globalisasi, ikut dalam kunjungan ke gedung yang diresmikan penggunaannya sejak 1981 ini. Guru yang ikut mengantar adalah saya dan ustadzah Uci Febria. Berangkat dari Parung sekitar pukul 7.30 pagi, melewati berbagai titik kemacetan aktivitas lalu lintas Jumat pagi, sempat ditegur polisi karena salah berputar di Jl Jenderal Sudirman (ampun, Pak Polisi... ga lagi deeeh... ) akhirnya kami tiba di Gedung Sekretariat ASEAN lewat pukul 10.

Ihda dan Farid menanti waktu memasuki gedung Sekretariat ASEAN

Kami sempat menunggu di teras, menyaksikan datangnya para istri duta besar negara2 ASEAN berdatangan untuk suatu pertemuan di ASEAN Hall. Sekitar pukul 10.20 WIB kami dipersilakan memasuki ruang Bougainville, untuk menerima penjelasan ttg ASEAN dari staf kunjungan siswa, Ibu Nuraini Soulisa.

Ibu Nuraini Soulisa menjelaskan tentang struktur organisasi ASEAN (foto oleh Uci Febria)
Pemaparan yang disampaikan cukup informatif. Saya aja baru tahu kalau Sekretariat ASEAN saat ini sudah dijabat oleh Vietnam, yaitu oleh H.E. Le Luong Minh, bukan lagi oleh H.E. Surin Pitsuwan dari Thailand. Saya dan para siswa juga baru tahu kalau "kyat" mata uang Myanmar itu disebutkan sebagai "cat" ;)

Siswa SMART berusaha menjawab pertanyaan tentang ASEAN (foto oleh Uci Febria)

Lebih dari satu jam waktu berlalu pun tidak terasa. Apalagi Ibu Soulisa memberi kuis berhadiah suvenir ASEAN untuk mengecek pemahaman siswa. Sayang tidak ada waktu tersisa untuk siswa bertanya mengenai isu2 terkini di kawasan Asia Tenggara seperti konflik di Myanmar, Laut Cina Selatan, atau ACFTA. Alhasil lembar kerja siswa yg sebelumnya saya sebarkan tidak bisa diisi ;(

Sutrisno dan mousepad ASEAN hasil menjawab kuis (foto oleh Uci Febria)
Siswa kelas 2 SMART EI di Sekretariat ASEAN (foto dari ASEAN Secretariat)

Nah, jangan khawatir, masih ada lembar kerja lainnya :D. Seusai solat Jumat di Masjid BPN, kami segera menuju ke Pacific Place. Tujuan kami ke mal ini bukan buat belanja ya, tapi mengunjungi Pusat Kebudayaan Amerika, yang dinamai @america. Sebelumnya, kami berfoto dulu di lobby gedung sekretariat, diambil gambarnya oleh bapak petugas yang berada di lobby.

Foto bareng... :)
Tahap kunjungan selanjutnya: Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, alias @america di Pacific Place, kawasan bisnis Sudirman. Di mal megah ini para siswa dihadapkan dengan sedikit kejutan budaya, yang juga menimpa saya, guru mereka :p. Pertama ada pemeriksaan tubuh dengan detektor metal dan pengecekan isi tas saat hendak memasuki gedung. Kedua, barang jualan yang ada di sini demikian "blink2" dan membuat pening kalau sampai kami tahu harganya, hehe... Jadi kami pasang kacamata kuda, tidak mau tengok kiri-kanan pada barang-barang mewah yang tidak mampu kami beli.

Sampai di suatu pojokan di lantai 3 mal ini di mana @america mangkal, kami sekali lagi melewati pemeriksaan ketat oleh petugas, sebelum kami semua akhirnya masuk dan disambut dan diberi penjelasan oleh Pak Fred mengenai @america ini.


Pak Fred dari @america menyambut siswa SMART EI
Setelah pemutaran video tentang Amerika dan @america, kami dipersilakan untuk mengeksplor fasilitas yang ada di pusat kebudayaan ini. Maka beberapa siswa memanfaatkan dengan meminjam perangkat iP*d untuk menjadi anggota dan memperbarui status di f**book (ga boleh iklan, hehe...)



Tak disangka, di dalam pusat kebudayaan ini kami bertemu tokoh global, salah seorang peraih Nobel Perdamaian abad ini, yang tentu saja adalah warga negara Amerika! Maka, berhamburanlah para siswa mendekat untuk berfoto... dengan patung Barack Obama :)


Foto bareng Mr President of the USA

Ada lembar kerja yang harus diisi siswa sebagai buah tangan kunjungan ini. Tapi itu di cerita lain, ya...

Thursday, May 30, 2013

Di Balik Layar: Film Pendek "Menatap Biru"

Ada tantangan baru yang cukup mendebarkan bagi anggota klub jurnalistik SMART EI, S'Detik, yg baru berdiri "seumur jagung". Tadinya kami melihat di situs Film Pelajar ada sebuah lomba pembuatan film pendek untuk pelajar, diadakan dengan sponsor sebuah bank nasional, yang rencananya akan diikuti oleh Kabul Hidayatulloh dkk. Tetapi oh tetapi, di situs itu juga muncul sebuah lomba pembuatan film lain, yaitu Festival Film Surabaya, bak memotong di tikungan. Tampaknya lebih seru untuk mengadu nasib di lomba terakhir ini, sehingga akhirnya produksi sebuah film pendek pun dikebut oleh para jurnalis muda berbakat ini.

Ide cerita muncul dari Kabul, yang kemudian juga bertindak sebagai sutradara. Fahrul lulus "casting" sebagai tokoh utama, Ade menjadi juru kamera, dan Rein bertanggung jawab pada tampilan akhir film, alias editor.

Pengarahan dari sutradara dan rangkaian pengambilan gambar adegan di gedung Sekolah Guru Indonesia 

Latihan adegan di koridor sekolah oleh pemeran utama dan pendukung.

Ke mana teman2 klub jurnalistik lain? Ada kok yang sempat berada di depan layar sebagai "cameo" maupun yang membantu di balik layar. Tidak dilupakan peran seorang kakak alumni SMART EI, yaitu Fadyan Hilman, yang memberi kursus singkat nan taktis untuk penyuntingan rekaman demi rekaman hingga alhamdulillah, akhirnya seluruh proses film ini selesai satu hari sebelum tenggat pengiriman ke panitia lomba :)

Kak Fadyan menerangkan cara penyuntingan dengan menggunakan MovieEditor

Rein dan Kabul, akhirnya berhasil menyunting film perdana!

Dan ini lho, poster filmnya: Menatap Biru.

Foto dan penyunting poster: Rein || Model: Fahrul

Apakah film yang mengharubiru ini berhasil jadi pemenang? Kali ini belum. Tapi tentu Kabul dkk tidak patah arang. Berbagai cerita lain siap direkam dan dijadikan film. Maju terus siswa SMART EI dan Klub Jurnalistik S'Detik!

Pengumuman Hasil Seleksi Nasional Beasiswa SMART EI Angkatan 10, 2013-2014

Setelah berbulan dinanti-nanti oleh ratusan keluarga di seluruh Indonesia, akhirnya hari ini diumumkan nama-nama 44 calon siswa angkatan 10 SMART Ekselensia Indonesia, sekolah menengah bebas biaya yang dibiayai oleh dana zakat, infak dan sedekah melalui Dompet Dhuafa.

Fieldtrip SMART Ekselensia Indonesia di Kebun Raya Cibodas, November 2012
Para calon siswa penerang masa depan bangsa itu adalah:

1. Gilang Arisandi - Sumatera Utara
2. Arif Difen Saputra - Sumatera Barat
3. M. Fadlullah Ramadhan - Sumatera Barat
4. Muhammad Iqbal - Sumatera Barat
5. Muhammad Khairul - Sumatera Barat

6. Muhammad Rizaldi - Sumatera Barat
7. Tobi Fanda Putra - Sumatera Barat
8. Bima Awanda  - Sumatera Barat
9. Jordi Saputra - Sumatera Selatan

10. Siddiq Noven Fathana  - Riau
11. Iqbal Sodiq – Lampung
12. Fachturrozie Riski Ananda - Bangka Belitung
13.  Briansyah Hanratama – Jabodetabek
14. Mohammad Rosyid - Jabodetabek
15.  Muhammad Fahmi Ammar - Jabodetabek
16.  Alfan Hakim  - Jabodetabek
17.  Syahrizal Rachim - Jabodetabek
18.  Muhammad Hafizh M - Jabodetabek
19.  Nasrul Azmi - Jabodetabek
20.  Rama Ahmad Noor Faizi – Jabodetabek
21.  Hizbullah Ash-Shidiqy - Jawa Barat
22.  Restu Agung Darama - Jawa Barat
23.  Tsaury Syidad Putra Sopiandy  - Jawa Barat
24.  Rizky Gunawan - Jawa Barat
25.  Abdullah T. Hasyim - Jawa Tengah
26.  Achmad Dicky Fawzan - Jawa Tengah
27.  M. Indra Triarie S - Jawa Tengah
28.  Hafidh Maulana - Jawa Tengah
29.  Lazuda Ramadhan D - D.I. Yogyakarta
30.  Ikhsan burhanudin - D.I. Yogyakarta
31.  Devon Agastyan Putra - D.I. Yogyakarta
32.  Muhammad Fajrul Iman - Jawa Timur
33.  Habibullah Akbar - Jawa Timur
34.  Ganang Septiadi - Jawa Timur
35.  Muhammad Awaluddin – NTB
36.  Muhammad Syahreza Altrafiz – NTT
37.  Ahmad Basyir Najwan - Kalimantan Selatan
38.  M. Irhas Esa Wisnu - Kalimantan Timur
39.  Muhammad Arif - Kalimantan Timur
40.  Putra Ramadhan - Kalimantan Timur
41.  Ahmad Roni Erlangga - Kalimantan Timur
42.  Samladen Abimanyu - Sulawesi Tengah
43.  Rivandi Pradwipta  - Sulawesi Tengah
44.  Muhammad Rofiq S - Papua Barat 


Selamat bergabung dengan keluarga besar SMART EI. Semoga sekolah ini menjadi jalan terbaik menuju masa depan gemilang.

Thursday, May 9, 2013

Kunjungan ke Istana Kepresidenan dan Galeri Foto Jurnalistik Antara

Ustadzah Vera dan ustadzah Retno mendampingi para jurnalis jempolan SMART EI: Fahrul Hilman, Kabul Hidayatulloh, Agniardi Rein Prasetyo, Ade Putra Tri Prima, Iqro' Maa Filardzi dan Arzaq Tahara Fitwantyo

(Cerita ini ditulis oleh dua orang siswa kelas 2 SMP SMART EI, sebagai bahan latihan menulis sekaligus laporan kunjungan dari kegiatan ekstrakurikuler jurnalistik. Supaya ceritanya tidak dobel ada di sana dan di sini, maka saya muat ulang saja. Tidak apa2 ya... :p. Selamat membaca.)
Pagi itu, Sabtu tanggal 27 April 2013 saya dan beberapa teman anggota ekstrakurikuler jurnalistik SMART EI dengan didampingi Ustadzah Retno pergi mengunjungi pameran foto dan tur ke Istana Merdeka di Jakarta. Kami repot menyiapkan pakaian batik yang terbaik. Setelah sarapan dan saling menunggu, akhirnya pukul 7 pagi lewat, saat posisi matahari belum terlalu tinggi, kami pun berangkat dari Bogor dengan menggunakan mobil sekolah.
Perjalanan menuju istana memakan waktu kurang lebih selama dua jam. Udara masih agak dingin, sehingga di perjalanan kami lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur. Menjelang pukul 9 pagi kami tiba di komplek Sekretariat Negara di wilayah Jalan Veteran, Jakarta Pusat.
Ternyata area parkir Setneg telah dipadati oleh banyak pengunjung dengan bus-bus besar. Ada satu hal yang membuat saya takjub, karena ternyata pengunjung yang datang tak hanya berasal dari sekitar Jabodetabek saja, tapi juga dari Indramayu Yogyakarta, Pacitan dan Malang (Jawa Timur) bahkan Pringsewu (Lampung).
Kami menunggu dibukanya jam berkunjung dengan hanya duduk-duduk santai. Ada teman yang menyempatkan diri jajan es krim. Sekitar lima belas menit kemudian,pukul sembilan, barulah pendaftaran untuk tur kunjungan istana dibuka. Tapi, kami masih harus menunggu giliran karena banyaknya pengunjung yang datang. Bayangkan untuk sebuah rombongan SMP dari Yogyakarta yang berjumlah sekitar 240 siswa, mereka harus menunggu setidaknya setengah jam. Belum lagi masih banyak rombongan yang terlihat antusias menunggu giliran masuk.
Tak kurang dari dua jam, menjelang pukul 12 siang akhirnya tiba pula giliran kami setelah kaki-kaki kami hampir kesemutan menunggu. Awalnya, kami bergabung dengan rombongan dari suatu Taman Kanak-kanak (TK) bersama guru-guru dan orangtua mereka, dan rombongan Paskibraka DKI di auditorium. Sekitar lima belas menit kami disuguhi film dokumenter tentang sejarah Istana Merdeka.
Setelah itu kami dan rombongan Paskibraka DKI dipisah dari rombongan TK. Bersama kami pergi ke Istana Merdeka yang memakan waktu perjalanan kurang lebih tiga menit dengan menggunakan bis yang telah disediakan pihak Istana. Awalnya kami diberitahukan tentang tata tertib selama berada di lingkungan Istana, di antaranya adalah mematikan telepon genggam. Perjalanan dimulai dari lapangan tempat pengibaran bendera Merah Putih setiap tanggal 17 Agustus. Rombongan kami sempat berfoto di depan Istana Merdeka yang langsung menghadap Monumen Nasional oleh fotografer istana. Nampak ada yang unik di depan pintu istana yaitu adanya dua penjaga yang harus berdiri tegak selama tiga puluh menit. Saya langsung teringat dengan penjaga istana Inggris di film "Mr. Bean".
Di antara ruangan-ruangan yang ada di dalam Istana, terdapat Ruang Jepara, ruangan yang dipenuhi mebel ukiran jepara tempat Presiden menerima tamu. Ada pula ruangan tempat pengunduran diri Presiden Soeharto. Selain itu, masih banyak ruangan lain dan beberapa hasil foto jepretan Ibu Negara, lukisan karya Raden Saleh dan koleksi lainnya.
Selesai dari Istana kami tak langsung pulang ke Bogor, tapi kami mampir dulu ke Pasar Baru tepatnya untuk melihat pameran foto berjudul "Seen" di Galeri Foto Jurnalistik ANTARA. Kami diminta memilih salah satu foto yang paling berkesan dan menceritakan alasannya. Lantai dua galeri ini ternyata merupakan museum jurnalistik yang menceritakan sejarah pendirian kantor berita nasional Indonesia, ANTARA.
Selepas solat dzuhur dan makan siang, dengan diantar hujan yang mengguyur Jakarta, barulah rombongan kami kembali pulang ke SMART Ekselensia Indonesia. (Kabul Hidayatullah dan Ade Putra TP.)

Wednesday, March 20, 2013

Mari Menjelajah Asia Tenggara (Bagian 1)

Interpretasi peta dan bentuk muka bumi bagi siswa SMP SMART EI telah selesai! Belum semua lulus, ya, tapi nanti akan ada pemberian latihan lagi dan materi tambahan untuk yang belum tuntas.

Sekarang kita mulai lagi menjelajah kawasan Asia Tenggara, yuk! Agar penjelajahan berlangsung efektif dalam waktu relatif singkat, kira2 10 hari saja, sepuluh negara kawasan Asia Tenggara akan dikunjungi oleh grup penjelajah yang berbeda. Masing2 negara dikunjungi dan dikumpulkan datanya oleh dua, bahkan satu orang saja. Data kekhasan tiap negara itu dibawa pulang ke Parung, kembali dibagikan di dalam kelas IPS, dalam bentuk kartu permainan kuartet... :)

Mengapa "laporan" ini dibuat dalam bentuk kartu kuartet mengenai Asia Tenggara, tak lain karena ini adalah salah satu bentuk media pembelajaran yang dibantu pembuatannya oleh siswa, dan bisa dimainkan di dalam kelas tanpa membuat guru mengomel. Tambahan lagi, buat SMP SMART EI, ini adalah produk terbaru dalam belajar kawasan Asia Tenggara, setelah sebelumnya kakak2 angkatan mereka membuat brosur wisata, buku saku, dan peta kawasan.

Ini lho hasil "laporan" mereka:

Karya kuartet ASEAN 2A
Bagian belakang kuartet karya 2A

Karya kuartet 2B
Gaya serius siswa 2B mengumpulkan data di perpustakaan
Doni Septian dan Afdal Kurnia, menuangkan hasil "penjelajahan" mereka di Thailand.

Bagaimana kartu2 ini kemudian dimainkan, eh... maksudnya dibuat sebagai bahan belajar, tunggu di tulisan berikutnya, ya :)

Tuesday, March 5, 2013

Belajar Interpretasi Peta

Selesai materi Perdagangan Internasional, di kelas IPS Terpadu, siswa SMP SMART Ekselensia Indonesia sekarang masuk materi Interpretasi Peta dan Bentuk Muka Bumi.

Hampir semua anak sekolah sudah pernah melihat peta. Minimal peta buatan sendiri. Atau bisa jadi peta yang dimunculkan dalam episode2 serial "Dora the Explorer", hehe... Dengan pengantar itu, maka materi menginterpretasi atau memberi penafsiran atas tampilan sebuah peta tidaklah sulit diajarkan.

Supaya bisa berkesinambungan dengan materi berikutnya nanti, yaitu tentang Benua dan Samudera, saya minta anak2 mengamati "peta dunia" dari abad pertengahan yang dibuat di Korea, lebih terkenal sebagai peta Kangnido.


Peta Kangnido

Setelah berdiskusi mengenai tampilan peta dunia yang "jadul banget" itu, ditambah penjelasan yang saya ambil dari buku mengenai penjelajahan dunia oleh bangsa Cina, kegiatan pembelajaran bagi para siswa berkembang menjadi membuat peta dunia berdasar pengetahuan dan penafsiran masing2.

Mulai menggambar peta dunia

Pada pertemuan selanjutnya, peta2 nan cantik dan multitafsir itu kemudian dijelaskan oleh para kartografernya. Mereka bergantian maju ke depan kelas dan menjelaskan mengapa benua Asia kurang menonjol dibandingkan Eropa, mengapa potret Naruto yang dipakai untuk melambangkan Jepang, dan mengapa pula warna biru dibubuhkan pada wilayah daratan alih2 pada perairan :)


Penjelasan Kabul atas peta dunia yang digambarnya

Sutrisno dan benua Australia yang terpotong

Andrian menunjukkan peta dunianya yang penuh simbol menurut tafsirannya.


Kalau almarhum Pak Tino Sidin hadir di kelas tadi, niscaya beliau akan bilang, "Yak, bagusss!" karena gambar peta dunia ini memang bagus2, setidaknya lebih bagus daripada buatan ustadzah Vera kalau diminta menggambar, hehe... Alhamdulillah, sekarang para siswa memahami bahwa para kartografer adalah orang2 luar biasa yang mampu menghadirkan pada kita  gambaran bumi yang sesungguhnya melalui peta2 buatan mereka.