Showing posts with label tamu. Show all posts
Showing posts with label tamu. Show all posts

Wednesday, July 8, 2015

This Could Be ...

Bulan Ramadhan tahun ini sudah berjalan dua pekan. Di sekolah kami, SMART Ekselensia Indonesia tidak ada kegiatan belajar mengajar hingga tahun ajaran baru dimulai setelah Idul Fitri. Saat ini kegiatan itikaf bagi siswa2 juga akan segera dimulai. Mumpung masih ada rezeki, saya dan Ustadzah Detty membuat acara buka puasa bersama dengan siswa2 angkatan 8 dan 9 secara terpisah.

Acara bersama angkatan 8 sudah dilaksanakan pekan lalu, dan lupa ga ada foto2nya, hehe... Guru lain yang hadir dan ikut membantu meramaikan ketersediaan konsumsi adalah ustadzah Dini dan ustadzah Uci (dan suami ustadzah Uci :p). Selain itu hadir pula ustad asrama angkatan 8, yaitu ustad Wili. Acara pokok selain buka puasa adalah doa kami semua agar anggota angkatan tertua di SMART saat ini bersiap menghadapi tahun terakhir di sekolah, dan bisa melanjutkan ke kampus pilihan di tahun ajaran mendatang, amiiin...

Bersama angkatan 9, acara buka puasa baru berlangsung kemarin, Selasa (7/7). Di antara para hadirin ada bintang tamu, dua orang guru SMART EI yang sudah berpindah tempat tugas, yaitu ustadzah Irena dan ustadzah Retno. Masih ada beberapa guru lain yang diundang, tapi mereka tak bisa ikut karena mungkin sudah ada janji berbuka puasa bersama keluarga di rumah. Ada pula yang kehadirannya diwakili makanan berbuka seperti ustadzah Dina. Keluarga ustadzah Detty hadir lengkap. Beberapa ustad yang diundang, alhamdulillah menyempatkan hadir, seperti ustad Syaiful, ustad Sriyono, ustad Wildan, dan ustad Firman. Juga ada seorang kakak alumni yang baru lulus dari angkatan 7, yaitu Kak Hadi, ikut berbuka puasa bersama kami.

Tamu yang tak kalah istimewa adalah dua orang kakak alumni angkatan 4 yang memang sengaja diundang jauh2 dari Solo dan Depok, yaitu Kak Dede dan Kak Iyas. Tak pernah mengalami masa belajar bersama dengan angkatan 9 yang baru memasuki tingkat SMA di kampus SMART EI ini, namun sepak terjang dan keharuman nama kedua alumni di bidang masing2 (aisssh...) tak asing terdengar di kalangan para junior. Alhasil sesi menanti azan magrib diisi dengan rubrik konsultasi kehidupan kampus bersama kak Dede yang berkuliah di UNS Surakarta, dan Kak Iyas mahasiswa Fakultas Psikologi UI.

Sisa acara, selain makan2, ya foto2 deh :)


Pembawa acara, Zikri dan Syam'un

Penampilan hiburan lagu oleh Arman, Jefri, Galih dan Ibnu


Kakak2 alumni yang jadi undangan istimewa

Selamat melanjutkan ibadah Ramadhan. This could be our last Ramadhan together, hopefully many blessings come from Allah for us afterward. Semoga kita mendapat berkah Ramadhan ini dan dipertemukan kembali dengan Ramadhan di tahun2 mendatang, aamiin...






Catatan: foto2 ini kisah ini bukan diambil oleh saya. Nggak tahu oleh siapa, karena kamera Olympus saya ini kemarin beredar di tangan beberapa siswa.

Sunday, October 12, 2014

Bawang Goreng

Ini cerita lumayan lama dari sebuah sudut sekolah. Akar ceritanya panjang, yaitu dari suatu Sabtu pagi, 22 September 2012. Klub jurnalistik sekolah kami, SMART Ekselensia Indonesia, resmi berdiri. Namanya S'Detik, alias "SMART dengan Jurnalistik.

Pertemuan pertama klub jurnalistik S'Detik, dipimpin oleh Ahmad Rey Fahriza (angkatan 5 SMART EI)


Inti cerita ini adalah kejadian hari Minggu, 21 September 2014. Untuk sebuah acara peringatan dua tahun berdirinya klub jurnalistik S'Detik, saya mengundang semua peserta klub dan beberapa kakak senior yang sudah jadi alumni, untuk berbagi cerita dan pengalaman serta ‘selamatan’ bareng.

Rey datang lagi, sudah jadi alumni SMART bersama Ahmad Rofai (angkatan 6 SMART EI)

Biar seru, saya pesan nasi tumpeng yang cukup untuk 30 orang. Saat ini anggota klub SDetik terdiri dari siswa2 kelas 2 hingga 5, atau angkatan 7, 8, 9 dan 10.

Biarlah 30 orang juga, memang sudah rezeki mereka, kata seorang tukang rambutan kepada istrinya #eh. 

Tumpeng kami di dua tahun SDetik

Sang tumpeng tersebut -nasi kuning berlauk perkedel, tempe orek, telur dadar, terbungkus plastik- tiba sekitar pukul satu siang. Saya meminta beberapa siswa yang telah hadir untuk membantu membawa masuk dan meletakkannya di meja. Mereka membawanya dengan bersemangat, mata berbinar2… dan mengiringinya dengan… hampir semacam koor:

“Hmmm… Bawang goreng…”

Saya jadi terharu. Bagi beberapa orang, bahagia itu ternyata sesederhana bertemu nasi bertabur bawang goreng.


Siang itu yang ikut tumpengan memang tidak sampai 30 orang, tidak semuanya juga masuk dalam foto di atas. Namun alhamdulillah, tumpengnya habis dan hanya menyisakan tampah anyaman bambu saja. Mungkin akibat tuah bawang gorengnya ya ^_^

Foto2: dokumen SDetik.

Wednesday, October 2, 2013

Melihat Dunia Mulai dari Titik Nol

Hm... Hmm... Hm... Ada guru tamu lagi di SMART Ekselensia Indonesia.

Hari ini kami mendatangkan Agustinus Wibowo, seorang penulis tiga buku mengenai perjalanannya ke beberapa negara yang jarang didatangi oleh sebagian besar pelancong Indonesia yang bertandang ke luar negeri. Ketiga buku itu adalah Selimut Debu, Garis Batas, dan Titik Nol. Karena blog ini bukan blog buku, dan tulisan ini juga tidak diniatkan untuk menjadi resensi buku, maka kisah dalam tiga buku itu silakan cari di sumber lain :p

Kuliah tamu hari ini adalah kerjasama antara pembelajaran IPS Terpadu dan Bahasa Indonesia. Dari materi IPS, diharapkan siswa memahami perbedaan yang ada di negera-negara yang pernah dikunjungi oleh Mas Agus. Untuk pelajaran Bahasa Indonesia, buku2 beliau yang termasuk sebagai "travel-literature" akan dijadikan bahan untuk resensi buku non-fiksi. Ada juga penugasan bagi siswa kelas 1 untuk melakukan wawancara dengan beliau.

M. Fathikhur Rafi sebagai pembaca buku "Titik Nol" dan M. Fadhli sebagai moderator mendampingi mas Agus

Ada wartawan2 cilik yang mewawancarai mas Agus seusai acara: M. Arief, Bima Awanda dan Rama Ahmad Noor Faizi

Tuesday, September 24, 2013

Belajar Pajak Bersama Ahlinya

Pelajaran IPS Terpadu di SMP SMART EI kali ini kembali mengenai bab perpajakan. Materi yang cukup dinanti beberapa siswa yang doyan matematika, karena ada urusan hitung menghitung uang. Sayangnya ini hanya uang orang, pura2 pula, bukan uang sendiri, hehe... 

Sebelum membuat RPP, seperti biasanya saya memeriksa dulu kondisi dunia nyata yang terkait dengan materi ini. Kalau mau gampang sih, tinggal buka saja materi tahun lalu atau gunakan bahan yang persis sama dengan yang ada dalam buku teks yang dipegang oleh siswa. Tapi itu metode mengajar yang sebaiknya tidak dilestarikan ya, karena tidak kontekstual dengan kondisi zaman. Kasihan kan para siswa kalau ilmu yang kita ajarkan di kelas ternyata tidak berguna di kehidupan nyata mereka.

Setelah melakukan pelacakan melalui Google, hingga sampai ke laman Direktorat Jenderal Pajak, Kementrian Keuangan RI, ternyata memang ada perubahan yang lumayan mengejutkan dibandingkan ketika saya mengajarkan materi ini tahun ajaran lalu. Perubahan ini terkait dengan naiknya nilai PTKP bagi wajib pajak nasional yang merupakan salah satu unsur dalam menghitung Pajak Penghasilan (PPh). Hingga tanggal 31 Desember 2012, PTKP Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) yang bisa disebut sebagai pengurang penghasilan yang akan dikenai pajak tersebut adalah sebesar Rp 15.840.000,-, mulai Januari menjadi Rp 24.300.000,-. Di dalam buku teks yang terbit tahun 2006 bahkan nilai PTKP WP OP masih tertera Rp 13.200.000,-

Waaah, lumayan signifikan ya, peningkatan PTKP ini. Tapi apa alasan pemerintah, ya? Karena saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, maka

Tidak ada cara lain. Kita harus 
berjalan terus.

(eh itu sih puisinya Taufiq Ismail, ya? :p)

Maksud saya, apa boleh buat, kita minta saja seorang pegawai Dirjen Pajak Kementrian Keuangan RI untuk menjadi guru tamu di kelas untuk para siswa. Bukan kali ini ada guru tamu untuk materi pajak, dua tahun lalu juga ada salah satu pegawai di bawah Dirjen Pajak yang pernah saya undang. Bedanya, sekarang Pak Yuliyono datang hanya untuk mengajar kelas 2 saja. Karena aula sedang dipakai untuk acara lain, dan karena jumlah siswa kelas 2A dan 2B ini mencapai 44 anak, maka kami belajar sambil lesehan menumpang di kelas geografi dan bahasa.

Benar saja kan. Saat diberi kesempatan bertanya, langsung ada pertanyaan dari Azzam tentang kenaikan nilai PTKP tadi. Selain menjawab pertanyaan2 dari Azzam dkk, Pak Guru Ijul ini juga tidak lupa menyiapkan tantangan menghitung pajak untuk para siswa. Tiga orang siswa pun berhasil menyelesaikan tantangan dan mendapat bingkisan buku dari Pak Ijul. Saya belum tanya, apakah isinya buku tentang pajak, atau jenis metropop, hehe...

Terima kasih, Pak Guru tamu ahli pajak hari ini yang pulang pergi ke SMART memilih berkelana dengan angkutan umum, tidak mau dijemput mau pun diantar (kok jadi kayak jailangkung #eh). Semoga ilmu yang dibagi bisa bermanfaat, dan nantinya membuat para siswa taat membayar pajak dan zakat juga, tentunya. :)

Pak Guru Yuliyono "in action"

Vikram mengerjakan soal menghitung pajak yang ketiga

Aldi Maulana, Vikram Makrif dan M. Syahid Fathurrizqi menerima hadiah dari Pak Ijul

Pemberian kenang-kenangan buat Pak Ijul yang diserahkan oleh Ahmad Ilham Akbar sang penggambarnya

Wednesday, September 18, 2013

Inspirasi Hidup Bunda Pipiet Senja

Seorang yang istimewa hari ini (Rabu, 18/9) menjadi guru inspirasi kami di SMART Ekselensia Indonesia. Beliau adalah Bunda Pipiet Senja, penulis lebih dari 130 buku bacaan sejak 40 tahun lalu.
Beliau datang berbagi cerita kehidupan kepenulisan sejak masih berusia belasan tahun, dengan keterbatasan fasilitas serta penyakit thalassemia yang masih "setia" mendampingi hingga kini. Bunda Pipiet mampu membawa suasana segar bagi peserta kelas inspirasi yang terdiri dari kelas 1-3 SMP SMART EI.

Kisah tentang puisi2 pertamanya yang dimuat di majalah "Aktuil" tahun 1970 an, bisa membuat para siswa tergelak dan terpukau. Mereka tak bisa menahan tawa saat diceritakan para redaktur majalah terkejut mendapati seorang gadis muda yang sebelumnya menyurati mereka dengan "ancaman" gentayangan, ternyata datang meminta honor pemuatan puisi dengan kaki masih "menapak tanah". Berikutnya para siswa terperangah saat tahu lima puisi Pipiet muda saat itu dihargai 7500 rupiah. Padahal harga per gram emas saat itu adalah 800 rupiah... Luar biasa sekali.

Bunda Pipiet juga tidak pelit membagi tips untuk bisa sukses merintis karir sebagai penulis: membaca-membaca-membaca, serta menulis-menulis-menulis. Bila konsisten dijalankan, maka kesuksesan juga akan konsisten menghampiri.

Sunday, October 7, 2012

Perang Antargalaksi di SMART Ekselensia Indonesia

Perang ini, awalnya lagi2 karena seorang wanita, yang kisahnya kelak akan melegenda seperti Helen dari Troya. Wanita ini berasal dari Yogyakarta. Dia lembut, baik hati dan selalu suka menolong... dan ternyata suka perang juga. Karena itulah posting blog ini lahir... . *intro yang cukup menegangkan, ya... :)

Tadinya saya hanya "menantang" Ustadzah Retno Winarsi Handayani, guru Bahasa Indonesia di SMP SMART EI, untuk sekali2 membaca cerita fiksi yang bergenre fantasi. Saat itu perpustakaan sekolah kami baru memperoleh satu eksemplar buku kumpulan cerita pendek Fantasy Fiesta 2010, hasil lomba menulis cerpen fantasi yang diadakan oleh Kastil Fantasi. Ini lomba cerpen umum yang juga diikuti oleh dua orang siswa SMART EI, Ahmad Beni dan Ahmad Romdani. Singkat cerita, buku itu akhirnya dipinjam oleh Ustadzah Retno yang biasanya hobi membaca kisah2 manis macam chicklit dan KKPK #eh :)

Beberapa minggu kemudian...

-apa?-

Oh, tidak apa2. Ternyata Ustadzah Retno telah berkolaborasi dengan Ustadzah Yati, pengajar Bahasa Indonesia juga di SMP SMART EI ini, bahwa materi penulisan cerpen untuk siswa kelas 2 tahun ini akan diminta bertemakan fantasi. Waah... pucuk dicinta kucing tiba. Teman2 Kastil Fantasi bersedia hadir untuk memberi lokakarya bagi para penulis2 muda ini. Jadwal pun diatur, spanduk dipesan, dan Ustadzah Retno pun berfoto dengan spanduk itu.

Pada hari yang ditentukan, Sabtu pagi 6 Oktober 2012, empat orang penghuni kastil berdatangan ke kampus SMART EI dari berbagai penjuru: Cileungsi, Ciledug, Mampang dan Bogor. Ada kak RD Villam, kak Klaudiani, kak Adham, dan Om FA Purawan. Setelah sesi lokakarya pertama ttg berbagi pengalaman menulis cerita fantasi, sesi kedua pun digelar. Materinya adalah membahas cerpen fantasi yang sudah dibuat para siswa peserta lokakarya. Begitu beragam cerita fantasi yang telah dibuat para siswa sebagai syarat mengikuti lokakarya ini. Ada yang berkisah tentang teman khayalan, tentang pencarian jati diri sebagai pahlawan, tentang pabrik terbengkalai yang jadi lokasi eksperimen ilmuwan sableng, hingga perang antargalaksi di masa beberapa ratus tahun mendatang.









Menjelang ashar, rangkaian lokakarya ini pun usai. Terima kasih untuk kastil fantasi dan semua calon penulis fantasi masa depan!