Showing posts with label jalan2. Show all posts
Showing posts with label jalan2. Show all posts

Friday, August 5, 2016

Tembok Tua Batavia, Tembok Tua Merana

Sebuah kesempatan untuk belajar bersama guru2 baru kembali hadir. Lewat ajakan uda Aldo Zirsov, seorang teman Goodreads Indonesia, kemarin (4/8) saya bisa hadir di sebuah lokakarya yang diadakan oleh Pusat Dokumentasi Arsitektur. Pengisi lokakarya ini selain dari PDA juga ada dari Arsip Nasional RI dan Atlas of Mutual Heritage, sebuah proyek pengumpulan data peninggalan bersejarah di dunia dari Belanda.
Kegiatan diskusi di Kafe Historia, kawasan Kota Tua Jakarta ini saja sudah begitu menarik bagi saya yang sudah lama tidak punya kesempatan menimba ilmu dari praktisi, apalagi kegiatan lanjutannya. Inilah kegiatan favorit saya selain membaca dan tidur: jalan-jalan! Tertulis di jadwal, kegiatan jalan-jalan ini akan menuju Gudang Timur VOC di Batavia, dipandu oleh Bapak Candrian Attahiyat, arkeolog senior Universitas Indonesia yang kini menjabat sebagai anggota Tim Ahli Cagar Budaya DKI Jakarta.
Sesuai jadwal, sekitar pukul 14.30 kami sudah bersiap menuju kawasan Pasar Ikan. Sekitar tiga puluhan peserta lokakarya naik angkot menuju Museum Bahari, walau itu bukan tujuan utama kami. Pak Candrian membawa kami tepat ke seberang museum tersebut. Pertama untuk menunjukkan bekas fondasi jembatan dari bata merah yang dibangun sejak abad 18 yang kini merana menanti akhir keberadaannya; dan kedua mengajak kami membayangkan bila di lokasi kami berdiri beberapa tahun lagi tanggul laut setinggi lima meter didirikan pemerintah demi (katanya) melindungi Jakarta dari banjir akibat gelombang pasang.
Bekas fondasi jembatan yang dibangun VOC

Di lokasi ini beberapa bulan lalu kontroversi proses penggusuran penduduk ilegalnya menjadi berita 'panas' di berbagai media tanah air. Di tanah timbunan sekian puluh tahun di bawah sepatu kami terlihat jelas runtuhan tembok, potongan kayu, aneka rupa sisa sampah sebagai tanda bekas pemukiman. Sebagian bangunan semi permanen masih berdiri, sedang dipreteli bagian2nya oleh pemiliknya sebelum gelombang penggusuran berikut tiba tanpa ampun. Belasan alat berat juga masih bekerja di bagian lain lahan, sebagai usaha meratakan kawasan untuk mempermudah akses pemilik properti di pulau2 reklamasi di Teluk Jakarta.
Sebuah bangunan besar modern berada di seberang sungai. Sebelumnya, Pak Candrian menyebut bangunan pintu air Pasar Ikan ini dengan sebutan "norak." Tapi itu bukan bahasan saya. Kami kembali melangkah ke samping deretan pagar besi tepat di sisi jalan depan Museum Bahari. Di situ masih ada sebentuk tembok rendah, terbuat dari bata merah yang lebar dengan permukaan lebih halus daripada bata buatan zaman sekarang. Inilah sisa tembok kota Batavia yang dulu dibangun hingga setinggi tujuh meter sejak abad ke-17 oleh VOC. Sisa tembok ini tersebar sedikit2 di kawasan ini, bercampur dengan tembok pembatas lain, termasuk yang dibangun di masa reformasi (setelah 1998).

Sisa tembok Batavia di kawasan Pasar Ikan.

Di balik sisa tembok tua yang tertimbun selama berabad-abad dan tingginya kini tinggal sedengkul itu, tampak "mengambang" beberapa bangunan kayu di tengah genangan air gelap kehijauan yang nyaris tidak bergerak. Rupanya bangunan2 inilah yang termasuk bangunan tertua di Jakarta, dulu merupakan gudang rempah2 yang dibangun VOC saat mulai berniaga di Jayakarta, di atas lahan yang disewa dari Kesultanan Banten, tahun 1600-an. Nantinya sekitar gudang dibangun tembok dan benteng yang dipersenjatai meriam dan digunakan untuk mengalahkan kesultanan ini. Ha. Senjata makan tuan.

Gudang tua VOC Pasar Ikan
Di sekitar bangunan bekas gudang hingga kini masih ada beberapa keluarga yang bertahan hidup dikelilingi air hijau kecoklatan serta bangunan terlantar lain baik berbahan tembok atau kayu. Beberapa anak masih ramai bermain; mereka bilang, kadang menemukan uang di antara bangunan2 terlantar itu. Saat saya tanya, sebagian masih bersekolah dan ada yang menyebut sudah berhenti sebelum lulus SD.

Rombongan jelajah kami melanjutkan perjalanan, masuk Museum Bahari melalui pintu belakang. Tidak lama di dalam, kami segera melangkah keluar, melewati Menara Syahbandar, menyeberang Jalan Kalibesar dan menyusuri Jalan Kerapu. Ternyata ada dua kegiatan jelajah kampung di sepanjang anak Sungai Ciliwung di kawasan ini, tapi nanti saya ceritakan di bagian lain saja. Perjalanan kami adalah mengunjungi sisa2 tembok tua Batavia dan Gudang Timur VOC.

Tinggal sekian ratus meter tembok yang dulu menjadi batas Batavia kini tersisa. Kondisi setelah lebih dari 300 tahun pun tampak tak terawat; banyak batu batanya terbuka dan pohon2an liar tumbuh dengan sulur2 akar menjulur tembok. Belum lagi jaraknya yang begitu dekat dengan pemukiman warga, membuat sebagian dari sisi luar tembok ini dimanfaatkan sebagai dinding samping tempat leyeh2 atau pos ronda. Cukup sulit untuk membayangkan lokasi tempat kami berdiri ini pada tahun 1700-an sudah berada di luar Batavia, sebuah kawasan yang dalam istilah sekarang bisalah disebut "Jakarta coret".

Sisa tembok Batavia tepat di samping pemukiman warga Kampung Tongkol

Miris? Tentu. Tapi kita belum melihat, ada apa di sisi dalam tembok ini. Dipimpin Pak Candrian, kami kembali melangkah ke utara, kali ini menempel tembok, mencari satu2nya pintu masuk dari masa lalu yang tersisa. Tembok setebal (kira2) dua meter ini punya sebentuk lubang pintu dengan bagian atas setengah lingkaran. Bagian utara dari pintu ini runtuh sama sekali tak bersisa, lebih jauh lagi adalah ruas jalan tol menuju Pelabuhan Tanjung Priok. Kami memasuki celah pintu, masuk ke bagian dalam tembok, dan melihat ...

... sisa Gudang Timur VOC dengan halaman berubah menjadi tempat parkir truk besar.
Kondisi tembok dalam ini tidak jauh berbeda dengan sisi luarnya. Bangunan besar putih tertutup tanaman bersulur di bagian kiri foto dulu adalah gudang gandum milik VOC. Sekarang dibiarkan kosong, hanya dimanfaatkan oleh para supir truk untuk beristirahat menanti giliran mengemudi membawa truk dan muatannya sesuai perintah bos. Truk2 parkir di luar, bapak2 supir istirahat di dalam.

Nah, begitulah. Rupanya sejak berpuluh tahun silam, bagian sebelah dalam tembok Batavia yang tersisa ini berada dalam penguasaan salah satu bagian TNI Angkatan Darat. Situs bersejarah ratusan tahun ini tampak begitu merana. Hingga akhir tahun lalu, kabarnya, di tempat saya berdiri mengambil gambar ini masih berdiri gudang tua lain, yang kemudian dirobohkan demi lapangan parkir yang lebih luas.

Penjelajahan kami sore itu masih mengunjungi satu kampung lagi di kawasan ini, namun gambaran tembok tua yang merana ini masih terbawa. Sampai kapan ya warga Jakarta masih bisa melihat sendiri sisa berdirinya tembok kota ini?

Atau sudah banyak yang tidak peduli?

Monday, April 11, 2016

Gelang Super Naik KRL

Sabtu (12/3) saya mengunjungi Stasiun Bogor, menjemput adik ipar saya yang dikirim mengikuti pelatihan kesehatan calon jamaah haji Kota Banda Aceh. Sambil menanti, mumpung hujan deras juga sedang mengguyur, saya jadi mondar mandir saja di depan loket penjualan tiket kereta. Dan jadi punya waktu foto2 sebentar. Di antaranya mengambil gambar dari genangan di halaman stasiun :)

Refleksi bangunan di seberang Stasiun Bogor melalui genangan bekas air hujan
Sebagaimana di banyak stasiun kereta commuter line di Jabodetabek, saat ini penjualan tiket kereta di Stasiun Bogor juga telah menggunakan mesin penjualan mandiri. Ada delapan mesin di stasiun ini, ditambah dua loket penjualan manual yang dilayani oleh petugas stasiun. Penerapan penjualan tiket serta pengembalian biaya jaminan secara otomatis ini memang baru berjalan beberapa bulan. Masih banyak calon penumpang yang belum paham penggunaannya. Padahal sebenarnya penggunaan mesin ini cukup mudah dan jelas instruksinya.

Misalnya dari Bogor kita hendak menumpang kereta ke Pasar Minggu, tanpa memiliki tiket elektronik berlangganan (sebutannya Kartu Multitrip / KMT. Buat saya singkatan ini kok jadi mengingatkan pada partainya Chiang Kai-Shek, ya. Kuomintang, hehe...). Berarti kita harus membeli karcis sekali jalan atau kartu Trip Harian Berjaminan (THB).

Di depan mesin penjualan tiket itu kita tinggal masukkan nama stasiun tujuan, yaitu Pasar Minggu. Nanti akan tertera jumlah uang yang harus kita masukkan ke dalam mesin, yaitu Rp 13.000. Biaya ini terdiri dari Rp 3.000 ongkos perjalanan Bogor-Pasar Minggu, dan Rp 10.000 sebagai jaminan kartu.
Kita bisa memasukkan uang pas, bisa juga uang dengan pecahan lebih besar, lalu menunggu uang kembalian keluar dari mesin. Kartu jaminan bisa kita uangkan kembali melalui mesin di stasiun tujuan, atau di stasiun mana saja di Jabodetabek dalam waktu tujuh hari.

Pengguna KMT juga bisa memakai jasa mesin ini untuk mengisi tambahan saldo kartu mereka. Tinggal masukkan kartu, kemudian pilih perintah isi ulang (top up), masukkan uang ke dalam mesin, saldo pada kartu akan bertambah, siap untuk perjalanan berikutnya.

Antrean di depan delapan mesin penjual tiket otomatis di Stasiun Bogor
Petugas Stasiun Bogor membantu calon penumpang mengoperasikan mesin
Enaknya pakai KMT ini, kita tidak usah antre di depan loket atau mesin tiket tiap kali hendak bepergian naik KRL. Cukup sentuhkan kartu kita pada pembaca kartu di gerbang masuk peron di tiap stasiun. Bila saldo kartu mencukupi, kita bisa langsung masuk peron dan menaiki KRL hingga stasiun tujuan.

Saat ini ada tiga jenis KMT yang disediakan. Pertama jenis kartu magnetik biasa, kedua jenis gelang karet, dan ketiga jenis gantungan kunci. Khusus yang kartu, beberapa bulan lalu sempat ada promosi pembuatan kartu bergambar khusus sesuai keinginan penumpang. Misalnya, kita ingin punya kartu KMT bergambar foto diri atau desain buatan kita, bisa saja. Harga kartu dengan gambar pesanan tentu lebih mahal dibandingkan KMT perdana yang bisa kita beli seharga Rp 50.000 dengan saldo Rp 20.000 itu. Tapi dengar2 sih pesanan KMT berdesain khusus ini untuk sementara dihentikan.

Sebenarnya saya sudah sempat bertanya2 pada petugas promosi di Stasiun Bogor ini, berapa gerangan harga pembelian perdana gelang KMT dan gantungan kunci KMT. Sayangnya karena informasi tersebut tidak saya catat (dan sok mengandalkan ingatan), lupalah saya akan harganya, hehe...

Jenis KMT bentuk kartu (kanan atas), gantungan kunci, dan gelang super :p
Ayolah, sekarang tidak usah takut mendatangi mesin penjual tiket KRL Jabodetabek. Silakan pilih tujuan Anda untuk keliling Jakarta dan sekitarnya.

Friday, April 10, 2015

Gunung Padang: Mission Accomplished!

Seperti orang punya utang, kalau kita punya misi yang belum tertunaikan, kok rasanya tidak enak ya. Berjalan terasa berat, tidur tidak nyenyak, makan tidak enak... 

Oke, kalimat terakhir di atas berlebihan :) Kalau bagian punya misi yang belum tertunaikan, hal itu benar belaka. Sejak mengambil amanah mengajar mapel sejarah di SMA SMART Ekselensia Indonesia tahun ajaran lalu, saya langsung membedah materi untuk membuat pembaruan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Harapan saya, hanya sedikit saja buku teks yang ada di sekolah selama bertahun-tahun, yang akan menjadi sumber belajar di kelas. Jadinya setiap ada surat kabar dan majalah yang memiliki berita menarik, saya simpan. Berbagai metode penyampaian pembelajaran saya kulik2 agar bisa digunakan dengan lebih.

Contohnya, pembelajaran mengenai masa praaksara dengan mencoba meniru teknik pembuatan logam manusia masa itu dengan belajar menjadi undagi. Kita tidak bisa pergi ke masa lalu, tapi bisa menerapkan pengetahuan kita untuk menyelami kehidupan di masa itu.

Dan tentunya, tempat belajar yang menarik perlu disiapkan. Belajar sejarah yang paling asyik sebenarnya adalah di lokasi kejadian di masa lalu. Tapi kita kan tidak punya "pintu ajaib ke mana saja" a la Doraemon, jadi terpaksa lokasi belajar masih di wilayah yang terjangkau di sekitar Bogor saja. Tapi sekali-sekali boleh deh, kita rancang pembelajaran yang bisa sekaligus membawa berkelana jauh... sampai ke masa lalu. 

Sudah sejak setahun lalu saya dan ustadzah Detty, guru geografi sekolah kami, merancang pembelajaran lapangan bersama di sebuah lokasi yang sangat menantang dan "nyambung" dengan materi kami di kelas X. Materi sejarah mengenai peradaban awal masyarakat Indonesia, dipadukan dengan materi lithosfer di kelas geografi, tentu akan terasa gregetnya jika dipadukan dalam pembelajaran di situs kontroversial yang sedang ramai dibicarakan, situs megalitik Gunung Padang, Cianjur.

Dirancang sedemikian lamanya, tadinya kunjungan ini akan dilaksanakan sekitar bulan Oktober 2014. Selain materi sejarah dan geografi, pelajaran bahasa Indonesia juga akan bergabung dengan materi menulis dan membaca berita. Khusus untuk siswa jurusan IPA, bahkan ada materi Fisika menyelidiki medan magnet di seputar kawasan. Namun ada gangguan yang tidak memungkinkan pembelajaran ini terlaksana saat itu. Masa berlalu, semester berganti, dan jadwal diputar, hingga akhirnya kami bisa berangkat ke situs megalitik yang usianya dikatakan lebih tua daripada piramida Mesir ini.

Sebanyak 34 siswa kelas 4 SMART EI berangkat dari sekolah hari Kamis (9/4), sekitar pukul 5.20 WIB, didampingi oleh saya, ustadzah Dini guru sosiologi, ustadzah Retno yang mewakili guru bahasa Indonesia, plus ustad Eko dan ustad Juli sebagai pendamping pengemudi di bagian depan truk penumpang milik Kopassus yang kami sewa :)

Perjalanan Parung-Cianjur sampai memakan waktu 3,5 jam dengan rute bagai perjalanan Ninja Hattori yang mendaki gunung lewati lembah. Alhamdulillah kami tiba juga dengan selamat sekitar pukul sembilan, saat lokasi situs bisa dibilang masih kosong dari serbuan pengunjung. 

Gerbang masuk areal situs Gunung Padang.
Berfoto sebelum mulai mendaki teras-teras Gunung Padang (foto oleh Ilyas FMA).
Mendengarkan penjelasan Pak Yudha, salah seorang pemandu di situs Gunung Padang
Foto bersama di areal teras ketiga (foto oleh Ardi Rein)
... dan foto bersama lagi sebelum beranjak pulang :p... (foto oleh M Fatih Daffa).

Nah, dari sini, cerita akan dilanjutkan oleh salah satu siswa peserta pembelajaran lapangan ini, Farid Ilham Muddin, di laman situs duabelasdetik.com. Selamat membaca :)

Monday, November 10, 2014

Belajar Lapangan, di Dalam Ruangan

Sebuah pesan pendek muncul di layar ponsel saya. Dari ustad Firman, guru Bahasa Indonesia di SMART Ekselensia Indonesia. Beliau menanyakan, berapa orang siswa SMART EI yang pernah saya ajak berkunjung ke Museum Nasional di Jakarta. Saya jawab, hanya ada lima orang, pada bulan Juni 2014 yang lalu. Mereka adalah siswa angkatan 9 yang pada bulan Maret 2014 lalu tidak bisa ikut menjelajah ke kawasan Kota Tua Jakarta. Mustinya ada tujuh, tapi dua orang lagi2 batal ikut dengan alasan masing2.

Pertanyaan ustad Firman rupanya berhubungan dengan kegiatan belajar di lapangan tahunan SMART EI untuk tahun 2014, alias fieldtrip. Tahun ini beliau adalah penanggungjawab kegiatan ini. Setelah dua tahun sebelumnya fieldtrip dijalankan di alam bebas, tahun ini kami belajar lapangan, tapi di dalam ruangan :p.

Dua lokasi menjadi tujuan belajar kelas 1-5 kali ini. Ternyata hanya sedikit sekali siswa (dan guru juga) yang sudah pernah mengunjungi Museum Nasional. Jadi diputuskanlah museum megah ini sebagai salah satu lokasi belajar, pada hari Rabu, 5 November 2014 lalu.

Empat bus besar pun berangkat sejak pagi dari kampus kami di Parung menuju Museum Nasional di kawasan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Mumpung juga pelajaran Sejarah Indonesia yang saya ampu untuk kelas X sedang membahas materi Kerajaan Hindu-Budha yang pernah berdiri di Nusantara, sekalian deh saya buat lembar kerja bagi para siswa kelas ini, yang harus diisi dengan melampirkan foto mereka bersama peninggalan sejarah kerajaan yang mereka pilih. Sambil mengisi LKS, sekalian foto bareng prasasti :)


Lokasi kunjungan belajar yang kedua adalah pameran buku, International Indonesia Book Fair, di Istora Senayan. Supaya para siswa bisa memanfaatkan kunjungan ini, maka ada modal berupa uang saku yang diberikan pada mereka agar bisa membeli buku yang bermanfaat bagi mereka.

Yani dkk pasang mata mencari buku incaran...
... dan Vikram berfoto bareng (foto) Presiden Joko Widodo :)

Saturday, June 28, 2014

Pengelana Jakarta Susulan

Suatu masa di bulan Maret 2014 lalu, sudah berlangsung pengelanaan siswa2 angkatan 9 SMART Ekselensia Indonesia ke kawasan Kota Tua Jakarta. Saat itu, tujuh di antara para siswa angkatan ini tidak bisa ikut karena ada yang sakit, dan ada yang mengikuti lomba di luar sekolah. Mereka adalah Vikram, Rafi, Syam'un, Satrio, Ade, Daffa dan Anggi. Wajar jika pada kesempatan lain mereka bertujuh ini minta diajak untuk berkelana seperti teman2nya, walaupun tidak seramai jika pergi bersama satu angkatan.

Nah, kami akhirnya bisa pergi pada saat liburan setelah urusan kenaikan kelas dan wisuda angkatan 6 beres. Tambahan lagi kami berkejaran dengan kedatangan bulan Ramadhan yang sudah menghitung hari. Jatuhlah hari pengelanaan kami ini pada hari Rabu, 25 Juni lalu. Karena sudah masuk masa libur sekolah pula, saya tak tega mengajak guru lain untuk berkelana. Biarlah sajalah kami berdelapan berkelana minimalis ke sudut2 Jakarta.

Vikram, Satrio dan Syam'un sudah berpengalaman naik KRL Jabodetabek. Saya pun berpesan kepada mereka bertiga untuk memandu kawan2 lain menaiki KRL dari Bogor ke Stasiun Kota, tempat saya akan menjumpai mereka. Saat saya tiba pagi jelang siang itu (iya, saya terlambat :p), ternyata Daffa dan Anggi tidak tampak. Rupanya ustad asrama tidak memberi izin pergi kepada keduanya karena satu dan lain hal. Baiklah... Lima anak pun tak kalah ramai. Segeralah kami menyeberangi jalan keluar dari stasiun menuju tujuan pertama, Museum Bank Indonesia.

Macam apa isi museum ini, silakan cari tulisan2 lain ya. Atau cek lewat google pun banyak infonya. Tidak ada tiket masuk yang harus dibayar, namun kita diminta mengisi buku tamu dan setelahnya memperoleh secarik tiket masuk. Dalam tulisan ini kita nikmati saja foto kelima personil boyband ini di seputar museum yang saat itu cukup sepi dari pengunjung.






Puas berkelana dan berfoto di Museum BI, pengelanaan dilanjutkan. Dengan pengalaman kurang mengasyikkan sebelumnya saat mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa di siang hari, maka kami tidak berjalan ke arah pelabuhan itu sebagaimana kunjungan sebelumnya. Kami melanjutkan perjalanan dengan menumpang bus TransJakarta ke arah Blok M, dan turun di halte Monumen Nasional, untuk mengunjungi Museum Nasional.

Ahaha, iya, inilah risiko berjalan2 bersama ustadzah Vera. Senangnya mengunjungi museum! Untung kelima personil boyband ini tidak keberatan. Biaya tiket orang dewasa 5000 rupiah, dan bagi pelajar 2000 rupiah. Di museum ini, tentu saja kami berkeliling, dan berfoto2 lagi :)






Sudah di Museum Nasional, tanggung lah kalau tidak menyeberang ke Monas sekalian, alias Monumen Nasional. Oke, kami menyeberang, piknik di taman dengan makanan kecil yang kami bawa, mengunjungi museum di bagian cawan monumen ini, dan tentu saja ambil foto2 lagi :)



Puaskah sesiangan main di pelataran Monas? Ternyata belum, sodara2. Ada yang ingin bisa naik lift untuk menuju bagian bawah lidah api Monas dan memandang Jakarta dari ketinggian. Saya sih sudah dua kali naik ke sana, jadi tidak terlalu berminat. Tapi kalau saya tolak permintaan itu mentah2 juga tidak enak, kan. Untuk pengalih perhatian, saya tunjukkan saja antrean pengunjung yang mengular ke luar cawan Monas untuk naik ke puncak.

Tuh, antreannya panjang. Sekarang udah hampir jam dua siang. Kamu nggak lapar?

Kata2 bersayap itu manjur. Mereka setuju beranjak. Yuk, kita makan siang aja, zah. Lalu kami berpindah keluar kungkungan pagar Monas. Niat kami tadinya menunggu Mpok Siti, alias city tour bus  bertingkat yang bisa ditumpangi gratis dan melewati beberapa titik wisata ibukota, namun cukup lama menanti, kami tak terangkut juga. Akhirnya kami kembali naik Transjakarta ke arah pertokoan Sarinah dan makan siang yang cukup terlambat di sana.

Rupanya kami termasuk beruntung, karena sore itu mengalami "Hujan Bulan Juni" yang cukup lama dan deras, menyebabkan kami tidak bisa keluar restoran. Baru setelah hujan agak reda kami melangkah ke tepian jalan Jenderal Sudirman, menaiki Kopaja menuju Stasiun Sudirman. Saat itu sudah lewat pukul empat sore, sudah waktunya orang2 yang bekerja di sekitar salah satu jalan pusat bisnis Jakarta itu mengakhiri masa kerjanya. 

Jangan tanya seberapa ramai calon penumpang yang menanti di peron, baik yang mengarah ke Tangerang maupun Bogor. Buat kelima siswa ini, sore tersebut adalah pengalaman pertama mereka berada dalam arus pulang para pekerja komuter dari luar Jakarta. Sebuah kereta kami lewatkan karena penuhnya, dan terpaksa kami menanti kereta berikutnya yang tidak sebentar.

Hampir magrib ketika kami terpaksa singgah di Stasiun Manggarai untuk bertukar kereta ke Bogor. Stasiun itu tentu penuh tak terkira dengan 6 lintasan yang dimilikinya. Ke Kota, Tanah Abang, Bogor dan Bekasi. Kami bergerumbul (seperti semak2, hehe...) di peron menuju Bogor, dan salah seorang dalam rombongan berucap, Untung juga Daffa batal ikut, zah. Dia bisa hilang kalau terpisah di kerumunan sepenuh ini.

Hehe... Iya sih. Insya Allah kapan2 kita bisa berkelana lagi deh, dan Daffa bisa ikut :)

Saturday, March 29, 2014

Menelusuri Jakarta Lampau

Minggu, 23 Maret 2014.

Rencananya, angkatan 9 yang sekarang duduk di kelas 2 SMP SMART EI, akan mengadakan rihlah atau wisata mentoring tahun ini. Pembina asrama angkatan ini, ustad Sriyono menerima usulan agar rihlah diadakan sekaligus untuk menempa kekuatan mental para siswa, yaitu bepergian jauh dengan menggunakan angkutan umum.

Ke mana kita kemon? (simbol generasi 90an nya muncul :p)

Pergi jauh ramai2 naik angkutan umum hari minggu dari Bogor... Artinya ya naik KRL Jabodetabek ke Jakarta! Lokasi yang akan dikunjungi pun ditetapkan sekaligus sebagai sarana belajar, yaitu Museum Bank Indonesia di kawasan kota tua, Jakarta Barat. Selain sarat pengetahuan yang terkait dengan materi belajar di kelas beberapa waktu lalu, kondisi bangunan dan koleksi museum juga keren untuk nanti jadi latar foto bareng (eh?) dan juga karena berkunjung ke museum ini tidak perlu bayar, alias free alias gratuit, alias gratis! :)

Nah, nah, hari H pun tiba, dan sayangnya ada 7 dari 44 siswa yang tidak bisa ikut wisata bersama. Satu orang karena sakit, dan 6 orang teman lain ikut lomba matematika di Bogor. Ya sudah, kami pun berangkat, 37 siswa bersama saya, ustadzah Retno, dan ustad Sriyono. Seperti perjalanan kakak2 angkatan 8 di tahun 2013 lalu, kami pergi dalam kelompok2 naik angkot, lalu berkumpul di stasiun Bogor.

Saat tiba di Stasiun Bogor, KRL yang siap berangkat ternyata menuju Tanah Abang, bukan Jakarta Kota. Kami tetap menaiki kereta tersebut, dengan niat berganti kereta yang akan langsung menuju Jakarta Kota di Stasiun Manggarai. Dimulailah petualangan naik KRL Jabodetabek yang pertama kalinya bagi sebagian siswa, hehe... Terutama bagi para siswa yang selama ini lahir dan besar di luar pulau Jawa dan Sumatera, di mana moda transportasi kereta api masih merupakan hal yang ada di awang-awang. Sebagian menatap lekat2 pemandangan di luar jendela kereta yang melaju cepat, ada pula yang sengaja berdiri di dalam gerbong untuk menguji ketangguhan :) Alhamdulillah, ini hari Minggu. Gerbong kereta tidak penuh hingga membuat kami terpaksa berdiri lelah berdesak2an sepanjang jalan.


Kami naik KRL dua kali. Satu dari Bogor hingga Manggarai (foto atas), lalu dari Manggarai ke Kota (foto bawah).

Kami tiba di stasiun tujuan, Stasiun Jakarta Kota di ujung jalur. Tinggal keluar stasiun dan menyeberang jalan lewat penyeberangan bawah tanah, tibalah kami di Museum Bank Indonesia.


(bersambung. Cari foto lainnya dulu :p)

Wednesday, November 20, 2013

Kemping...! Semalam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

"Tadinya kita kira mau menginap, zah... kan sudah pergi sampai sore..."
"Iya, kan sudah pergi jauh, capek..."
"Trus, katanya mau lihat penyu, tapi ga ada."
"Ternyata udah magrib, eh pulang ke asrama. Sampenya malam banget..."

Penggalan cerita tidak jelas beberapa tahun lalu itu masih teringat oleh saya. Para empunya cerita adalah para siswa angkatan 3 SMART Ekselensia Indonesia yang mengenang pertama kalinya mereka mengikuti kegiatan belajar lapangan alias fieldtrip di SMART EI. Saat itu, semester ganjil tahun 2007 ada tiga angkatan siswa SMART yang mengunjungi kawasan Ujung Genteng dalam rangka fieldtrip. Karena pada saat yang sama saya belum bergabung di SMART, maka belum tahu seberapa seru atau jauhnya perjalanan fieldtrip itu. Namun saya bisa menangkap kekecewaan beberapa siswa tersebut yang ingin sekali2 berkemah bersama guru dan teman satu sekolah di alam terbuka.

Waktu berlalu... Hingga tahun 2012 lalu, sebagian besar fieldtrip yang kami lakukan adalah kunjungan ke kampus atau tempat industri. Hmmm, pernah juga kami menjalankan outbond di area Jungle di kawasan Puncak, Desember 2008. Saat itu sudah lima angkatan bergabung di SMART EI, dan kekompakan antarangkatan begitu terasa. Apalagi bagi siswa angkatan 5 yang paling muda, kenangan mereka begitu mendalam, terlebih pada saat pulang bus mereka mogok di kawasan Puncak :)

Setelah tahun 2011 fieldtrip dilaksanakan di Kebun Binatang Ragunan Jakarta, dan tahun 2012 lalu mengambil lokasi di Kebun Raya Cibodas, maka tahun ini tujuan fieldtrip pun beringsut makin jauh dan lokasinya makin liar, hehe... Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak di kawasan Cidahu, yang sudah masuk Kabupaten Sukabumi menjadi tujuan kami. Dengan menempuh medan yang jauh dan berat, tidak seru bila acara fieldtrip kali ini hanya sehari di taman nasional, tanpa acara menginap alias kemping. Dukungan kanan kiri dari rekan2 guru dan kepala sekolah digalang, survei lokasi digiatkan, persiapan logistik dan akomodasi dikumpulkan, hingga akhirnya turun juga izin untuk berkemah semalam di TNGHS ini.

Yeaaaay...! Akhirnya kami kemping juga bersama2 satu sekolah! *jingkrak2 pakai sepatu balet :p

Hari keberangkatan tiba, Senin 18 November 2013. Enam buah truk sewaan dari Kopassus melaju meninggalkan Jampang menjelang pukul 6 pagi. Sempat mengalami macetnya pagi di Bogor di beberapa titik, akhirnya lima buah truk berhasil mengatasi semua tantangan untuk tiba di lokasi. Woow... woow... subhanallah... tak sedikit siswa dan guru bertasbih melihat pemandangan yang terbentang di hadapan saat turun dari truk dan menuju lokasi kemah didirikan di ketinggian sekitar 930 m dpl ini.

Pemandangan ke lembah Gunung Salak dari area kemah kami di TNGHS... subhanallah...
Satu dari empat tenda peleton yang dipakai menginap oleh 178 siswa SMART EI
Foto bareng di belakang spanduk sebelum mendaki ke Kawah Ratu
Separuh jalan menuju Kawah Ratu, sedikit mengaso dan berfoto di helipad Gunung Salak

Sampai juga di Kawah Ratu... Perjuangannya berat lho, jadi kita ambil gambar dulu :p
Mengambil air minum dalam perjalanan kembali ke kemah setelah dari kawah,
disinari matahari  di anak sungai jernih pegunungan
Walau api unggun hampir padam, semangat Renald dkk menceritakan legenda Halimun Mas tetap membara :)
Menanti sarapan sambil bercengkrama antarangkatan
Guru sekolah, guru asrama, karyawan sekolah, siswa kelas 1 hingga kelas 5, lengkap di curug ini.
Serunya kemping semalam begitu cepat berlalu...

Sunday, October 27, 2013

Calon Wartawan Meliput Lagi

Sabtu pagi kemarin (26/10) kembali ada sebuah ada petualangan yang dijalankan oleh 13 orang anggota terpilih klub jurnalistik S'Detik SMART Ekselensia Indonesia. Petualangan kali ini tidak jauh2, cukup dari Parung, Bogor menuju kampus Universitas Indonesia, Depok. Perbedaan petualangan lain adalah kali ini kami tidak menggunakan mobil sekolah atau mobil sewaan, melainkan dengan menggunakan angkutan umum berbayar, seperti banyak anak sekolah pada umumnya.

Perjalanan pertama dimulai pukul 6.20 pagi, menggunakan angkot rute 06 dari Parung hingga Terminal Merdeka, Kota Bogor. Dari Merdeka, rombongan kami berjalan kaki menuju Stasiun Bogor, lalu antri untuk membeli tiket KRL Commuter Line tujuan Depok. Saat ini tarif tiket KRL rute Bogor-UI 2500 rupiah.

Setelah antre beli tiket, lalu antre melewati gerbang dengan tiket elektronik

Ada tiga KRL sudah siap di peron menuju ke utara. Kami datangi KRL yang paling ramai, entah tujuannya ke Tanah Abang atau ke Kota, tidak masalah karena kami akan turun di stasiun Universitas Indonesia. Belum semua anggota rombongan kami naik, eh kereta bergerak dan berangkat! Maka tiga siswa dan ustadzah Retno pun tertinggal di peron, dan terpaksa menanti kereta berikutnya. Rombongan pertama yang tiba di stasiun UI menjelang pukul 8 pun harus sabar sekitar 30 menit menunggu tibanya rombongan kedua, sebelum akhirnya kami keluar stasiun menuju lokasi kunjungan pertama, Festival Dongeng Indonesia 2013.

Yani dan Vikram, duo reporter asal Jambi di depan FIB UI
Mungkin informasi yang saya dapat mengenai lokasi pelaksanaan festival di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI (FIB UI) kurang tepat, karena kok ya Sabtu pagi ini FIB sunyi dari tanda2 festival apa pun. Yang ada malah beberapa kucing yang kemudian difoto dengan gaya masing2 :p. Jadi kami lanjut ke lokasi festival di Perpustakaan UI. Alhamdulillah, di sini rameee... Langsung deh para reporter muda ini malah cari lokasi berfoto diri, hehe...

Azzam, Vikram, Aziz dan Aji foto bareng di tembok Festival Dongeng Indonesia

Kakak pendongeng dengan keluarga muda pendengarnya (foto oleh Ahmad Ilham Akbar)
Acaranya cukup seru, dan masih banyak acara seru seputar dongeng yang maunya kami saksikan semua di festival yang cuma sehari ini. Tapi kan kami punya janji bertemu dengan kakak2 pengurus pers mahasiswa UI, Suara Mahasiswa UI di Pusgiwa. Kami beranjak, lalu salah halte saat menanti bus kampus ke Pusgiwa, sehingga terlambat tiba di lokasi. Saat ini pun anggota rombongan sudah berkurang dua orang karena Satrio dan Vikram harus kembali terlebih dahulu ke Bogor. Maaf ya kakak2...

Kakak2 ini selama kira2 satu setengah jam kemudian banyak berbagi cerita suka duka pengelolaan majalah kampus yang mereka terbitkan, yaitu Majalah Suara Mahasiwa dan newsletter bulanan Gerbatama. Terima kasih ya, kak Puput dkk. Semoga pengalaman kakak2 ini bisa menjadi penguat motivasi kru S'Detik untuk menghidupkan terus penerbitan DuaBelaSdetik dan Sdetik untuk memberitakan kebenaran, ya!


Foto bersama kakak-kakak Suara Mahasiswa UI, difoto oleh kakak SuMa juga :)

Sekarang saatnya foto bareng di belakang Pusgiwa dengan fokus yang terbagi ke dua kamera (foto oleh Ade Putra TP)

Monday, September 2, 2013

Liputan Lapangan "S'Detik" di World Police Band Concert 2013

Anggota marching band Akademi Kepolisian RI 
Hari Minggu, resminya kegiatan sekolah libur. Namun Minggu pagi (1/9), sebanyak 14 siswa SMART EI tersebar di sepanjang ruas jalan MH Thamrin dan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat. Mereka adalah para peserta orientasi liputan lapangan klub Jurnalistik SMART EI, S'Detik, yang telah terpilih untuk menyaksikan dan meliput parade World Police Band Concert 2013 di Jakarta. Ini kegiatan tahunan besar yang diadakan antara lain oleh Mainichi Shimbun, harian terkemuka negeri matahari terbit serta World Police Band Concert Committee. Tahun ini, parade ini adalah penyelenggaraan kedelapanbelas kalinya.

Baru kali ini lho parade ini diadakan di Jakarta. Karena itu klub S'Detik mengirim utusan untuk menjadi mata dan telinga bagi seluruh seluruh civitas akademika SMART EI yang tidak bisa hadir. Empat belas siswa SMP dan SMA ini didampingi oleh ustadzah Vera ("hadir!"), ustadzah Uci dan Ustadzah Retno. Untuk mengambil sudut penulisan dan gambar yang unik, mereka dibagi dalam tiga kelompok. Satu kelompok bersama ustadzah Retno berada di pos Bundaran Hotel Indonesia, kelompok kedua bersama ustadzah Uci bersiaga di depan Sarinah, dan kelompok ketiga yang paling muda dan bersemangat menanti keberangkatan parade di bundaran patung Arjunawiwaha dan air mancur Monumen Nasional.

Kru liputan S'Detik di pos ketiga: Vikram, Ilham, Aziz, Azzam dan Yusuf

Kelompok ketiga ini yang berjalan kaki paling jauh dari pos pertama di Bundaran HI. Tapi rasa lelah tersebut cukup terbayar karena bisa menjadi tim yang menjumpai langsung anggota marching band dari lima negara (Indonesia, Jepang, Vietnam, Korea Selatan, dan Amerika Serikat) saat mereka belum bergerak. Kelima anggota tim juga bisa berfoto bersama anggota marching band pembuka parade, yaitu dari Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).


Berfoto bersama drummer marching band IPDN
Anggota pasukan marching band IPDN (foto oleh Ahmad Ilham Akbar)

Barisan polisi wanita dari marching band Tokyo Metropolitan Police Department (foto oleh Ahmad Ilham Akbar)
Sekitar pukul 8 pagi, band-band ini mulai bergerak, didahului rombongan tanjidor. Segera kabar keberangkatan disampaikan kepada teman2 di pos lain agar bersiap. Lima anggota tim pos ketiga pun siap dengan sudut2 liputannya. Ada yang mengambil gambar dengan kamera hingga ke jalur pembatas busway, ada yang di tepi jalan saja, ada yang sambil jalan mewawancara panitia kegiatan, dan ada juga yang mengamati para penonton lain sambil duduk di trotoar :p

Hasil liputan para jurnalis muda ini insya Allah akan segera diolah dan dipublikasikan di media kami, yaitu mading DuaBelaSdetik dan buletin S'Detik. Kalau mau baca, datang ke sekolah kami, ya! :p