Thursday, May 29, 2014

Mishka dan Panon Hideung

Sejak mengajar di SMART EI, saya sangat jarang nonton acara televisi (TV), karena memang tidak punya pesawat TV :) Dengan kondisi ini, saya terlambat berkenalan dengan tokoh kartun lucu yang tahun lalu mulai muncul di sebuah saluran televisi swasta nasional.

Hanya sekali, beberapa bulan lalu saat sedang mengacak-acak saluran televisi milik ayah, saya sempat melihat aksi kocak seorang anak kecil tengil dan beruang coklat sahabatnya dalam bahasa yang kedengarannya antah berantah. Itu pun sudah menjelang akhir cerita di mana kemudian muncul credit title dalam aksara cyrilic. Jadi saya tidak tahu banyak hal, selain kartun itu merupakan produksi Rusia berjudul  Маша и Медведь, alias "Masha y Medved", dan judulnya itu sudah dibahasainggriskan menjadi "Masha and the Bear".

(Oooo, ternyata "medved" itu artinya "beruang"? Berarti Presiden Rusia sebelum Pak Vladimir Putin sekarang ini, yaitu Pak Dmitry Medvedev, keturunan beruang? :p *ngelantur)


Si tengil Masha dan si beruang Miskha

Di pertengahan Mei ini, ada status seorang teman di sebuah media sosial menyebut duo ini. Saya pun teringat pada episode yang saya tonton dulu, saat Masha dan Miskha main sihir2an. Segera saya andalkan situs youtube untuk mencari rekaman kartun ini. Berhasil dengan sukses, saudara2, dan saya kembali tergelak dengan tingkah polah Masha menguji kesabaran Mishka. Sekian episode saya tonton, hingga tiba sebuah episode di mana Masha mengajak Mishka untuk memilih lagu cadas ketimbang lagu melankolis bilamana ingin memikat perhatian beruang betina dambaannya.

Miskha bergitar menyanyikan lagu untuk pujaan hatinya

Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan lagu yang dibawakan Miskha dengan mata berbinar itu. Saya terlalu terkesima melihat wajah sang beruang jantan itu begitu kecewa saat  lagu pilihannya malah membuat sang betina melengos pergi. Kasihaaan... Sudah berusaha memainkan lagu "Panon Hideung" dengan penuh perasaan, eh malah diabaikan... hiks...

Eh, apa itu tadi?
Panon hideung?
Lagu sunda tea?

*langsung fokus
*nonton ulang mulai adegan awal: Miskha menyiram kembang - beruang betina lewat - Miskha ambil gitar - menyanyikan nada lagu... eh... Panon Hideung....!

Jeng.. jeng.. jeng...!
Saya teringat pernah membaca sebuah artikel di koran beberapa waktu lalu, yaitu liputan tentang sekelompok seniman musik Indonesia mendapat kesempatan berpentas di Rusia. Salah satu nomor yang mereka tampilkan adalah lagu yang di Indonesia dikenal sebagai lagu dari tatar Sunda, yaitu "Panon Hideung". Ternyata lagu itu mendapat sambutan luas dari penonton Rusia, karena ternyata lagu itu juga sudah turun temurun merupakan lagu rakyat mereka!


Dalam bahasa Rusia, lagu ini berjudul Очи чёрные (Ochi chyornye), yang artinya nyaris sama dengan Panon Hideung, yaitu si Mata Hitam. Bagaimana ya sebuah lagu berbahasa Sunda bisa jadi lagu rakyat Rusia? Buat saya, jadilah teka-teki ini sebagai sebuah tantangan bagi para siswa di kelas saya di SMP SMART EI yang sedang mempelajari materi globalisasi.

Sebelum saya bawa si mata hitam ini ke dalam kelas, saya cari dulu informasi yang mendukung. Untung ya sekarang sudah era global, maka berbagai informasi mudah didapat. Anda juga bisa mendapat informasi yang sama, atau bahkan beda. Di antaranya bahwa lirik lagu Panon Hideung memang dibuat oleh seniman besar kita Ismail Marzuki tahun 1920-an. Namun lagunya memang sudah dari Rusia sana, sudah muncul sejak abad ke-19, sebagai musikalisasi dari puisi Ochi chyornye, yang sebenarnya juga terjemahan pula dari bahasa Ukraina. Hehe... lumayan berliku, ya?


Ismail Marzuki dan istrinya, Eulis Zuraidah, inspirasi "penyundaan" Ochie chornye (foto dari Kaskus.co.id
Berikutnya, di awal pembelajaran pada hari Kamis (22/5) pagi, sambil berdoa agar sambungan wifi internet sekolah berjalan dengan lancar, saya pun bertanya, "Siapa yang suka kartun Masha and the Bear?"


Wiiih, banyak sekali yang mengacungkan tangan kanan mereka. "Saya selalu nonton waktu pulang kampung kemarin, ustadzah," seru beberapa dari mereka.  Yak, baiklah, kita nonton Masha dulu.


"Horeee..." serentak semua bersiap. Ada yang mematikan lampu kelas, ada yang langsung bersila di kolong meja terdepan. Bismillah, saya hubungkan laptop ke youtube, dan terputarlah episode "Hit of the Season" dari serial Masha yang legendaris (buat saya) itu :p

 
Episode selesai, wajah para siswa terlihat penuh senyum melihat kemalangan Miskha, dan wajah ustadzah Vera terlihat galau karena tidak ada tanda2 seorang siswa pun mengenali si Panon Hideung. Waduh gawat ini... Lanjut ke langkah berikut setelah lampu kelas dinyalakan kembali.


"Siapa yang bisa melihat hubungan budaya antara orang Sunda dan orang Rusia?"
Bergantian mereka menjawab: gitarnya, musik rock-nya, cara merayu cewek-nya (#eh)...

"Siapa yang tahu lagu yang dimainkan oleh Miskha?" tanya saya lagi, kali ini pandangan saya khusus menyasar siswa2 yang bahasa ibunya adalah Sunda, dari 22 siswa di kelas ini. Ada Insan, Harsa, Ghifar, dan Ibnu. Mereka menggeleng. Duuuh, makin gawat.

Terpaksa sepagi ini suara emas saya harus keluar. "Nana... nana... nana nana... Nana nana.... nana nana..." (mohon dibaca sambil mengambil nada Panon hideung/ochi chornye/dark eyes/les eux noirs ya...). Mulai terlihat hasilnya. Wajah Ibnu putra Ciamis tampak berpikir keras, Insan jejaka Bandung mulai ribut sendiri, "Itu.... itu... lagu itu..." tapi tidak ada kesimpulan, hehe... Sedangkan Harsa asal Bojonggede dan Ghifar yang keturunan Kuningan itu tak menunjukkan ekspresi pengenalan lebih lanjut.

"Ayo, lagu apa itu? Mata hitam?" saya memberi tambahan sontekan. Alhamdulillah, gol! "Panon hideung," cetus Ibnu. Wajahnya langsung semringah bak melepas suatu beban berat. "Oooo..." yang lain menyusul. "Emang kayak pernah dengar, sih," tambah yang ingin berpartisipasi. Saya minta Ibnu dan Insan menyanyikan sedikit lagu Sunda itu agar putra2 daerah SMART yang lain bisa tahu lagu Sunda ini. Mereka menyanyi malu2 dan terputus2, padahal teman2 mereka juga nggak tahu artinya ;)

"Kok bisa, ya, lagu ini dinyanyikan oleh beruang Rusia?"
Karena lagunya ngetop. Karena bahasa Sunda tu keren...

Oke, sebelum warga Sunda jadi makin narsis, diskusi akan dilanjutkan besok. "Nanti malam, tolong tanya pada ustad di asrama yang paham bahasa Sunda, siapa yang sebenarnya menyanyikan lagu ini: orang Sunda atau orang Rusia?" pesan saya sebelum para siswa pindah ke kelas berikutnya.


Saya cetak artikel yang saya pilih mengenai asal-mula kemunculan lagu ini, lalu saya tempel di mading depan kelas. Esoknya, alhamdulillah, banyak siswa menyempatkan membaca informasi ini sebelum menjumpai saya di kelas. Jadi saat diskusi dimulai, mereka punya data dan banyak pertanyaan seputar mengglobalnya suatu produk budaya dari satu tempat ke tempat lain.


Bagaimanapun, masih ada yang belum percaya bahwa dalam dunia per.matahitam.an, seniman kita mengambil karya seniman lain. Aiiih, ya sudah. Kita bandingkan saja dua versi lagu ini.


Pertama versi Rusia. Lagu ini sampai dinyanyikan oleh paduan suara tentara, berarti lagu ini dianggap sangat serius oleh mereka. Percaya, nggak? Kalau belum, silakan klik tautan pada foto di bawah ini.


Paduan suara Angkatan Darat Tentara Merah Rusia menyanyikan "Ochi Chernye" alias "Panon Hideung" versi Rusia (foto dari youtube.com

Para siswa cukup terpaku menikmati video ini, termasuk menikmati senandung "Nana nana..." dari kelompok paduan suara sebelum sang solis beraksi dengan suara tenornya. Dan yang berikut ini, versi Sunda, juga saya putarkan. Sengaja saya pilih versi yang cukup jadul, konon direkam tahun 1950-an. Malah bukan video, hanya rekaman suara artis serbabisa Bing Slamet. Tetap saja sepanjang lagu, siswa2 tetap betah menatap proyeksi wajah tersenyum lebar ayah pemain sinetron Adi Bing Slamet itu.
Rekaman suara Bing Slamet menyanyikan Panon Hideung (foto dari youtube.com)

Kalau dalam versi Rusia tadi ada chorus "Nana nana...", hiburan dalam versi Sunda ini adalah chorus "Aa... aaa" setiap Bing Slamet menyelesaikan satu baris lagu. Alhasil, jadi ada paduan suara "Aa aaa.." tambahan hari ini :) Senangnya, belajar globalisasi sambil bernyanyi walau hanya satu silabel saja, huehehe...

Diskusi mengenai penyebaran unsur budaya global a la Mishka dan Panon Hideung tidak berhenti di situ. Kemarin, ulangan harian saya adakan sebagai evaluasi pemahaman. Dalam soal uraian saya minta mereka menjelaskan aspek globalisasi budaya terkait dengan Panon Hideung dan Ochi Chornye. Rupanya soal ini sangat menyenangkan buat mereka, karena mereka kerjakan sambil bernyanyi "Aaa... aaa..." dan sambil digubah dalam versi daerah masing2.

Moto ireng (aa... aaa...)
Pipi kuniang (aa... aaa...)
Irung mancung (aa... aaa...)
Putri Banjar.... --> Banjar di sini merujuk pada Banjar Baru, Kalimantan Selatan daerah asal sang penggubah :)



Ulangan dan penyampaian materi yang begitu seru! Tahun depan, bakal pakai lagu apalagi, ya?

Wednesday, May 28, 2014

Belajar Menjadi Undagi Abad 21

un·da·gi kl n tenaga ahli

Definisi di atas datang dari laman KBBI daring milik Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional RI. Kata ini tidak asing bagi orang yang mempelajari ilmu sosial di tingkat sekolah menengah, karena merupakan bagian materi kehidupan masa praaksara pada pelajaran IPS Terpadu kelas VII dan Sejarah kelas X. Salah satu periode dalam masa praaksara adalah zaman logam,yaitu saat manusia pendukung kehidupannya sudah mampu memanfaatkan logam untuk membuat produk pendukung kehidupan mereka. Karena saat itu mereka menguasai teknik peleburan dan pencetakan benda2 logam, tak kalah pandai dengan keahlian para pandai besi zaman sekarang, maka masa ini disebut pula sebagai zaman perundagian.

Jika hanya belajar membaca definisi dan melihat contoh pada gambar di buku atau internet, mempelajari kehidupan masa perundagian ini tidak ada gregetnya. Kita masih berjarak puluhan ribu tahun dengan masa lampau tersebut. Maka kami di SMP SMART EI membuat terobosan, dengan belajar menjadi undagi!

Selasa (29/4), pada awal pertemuan di dalam kelas, saya beri sedikit pengantar mengenai kebudayaan manusia praaksara, terutama yang dikenal di wilayah Nusantara. Mulai dari zaman batu tua, batu madya, batu muda, batu besar, dan tidak ketinggalan zaman logam. Bagaimana para ahli logam masa itu membuat hasil2 kebudayaan menggunakan logam, yaitu dengan teknik bivalve dan a cire perdue, juga saya jelaskan. Sekarang, saatnya kita mencoba teknik yang sama untuk menjadi undagi di abad ke-21.

Saya membagi kelas dalam empat kelompok, lalu kami bersama2 menuju halaman tengah, yang lebih dikenal sebagai Taman Bundar. Kepada masing2 kelompok, saya berikan sebongkah tanah liat, untuk menciptakan cetakan kreasi mereka. Kalau di teknik asli milik manusia purba, pertama ada bentuk yang lebih dulu dibuat dengan menggunakan lemak hewan yang mudah dibentuk, dilapis tanah liat, kemudian dipanaskan. Saat lemak itu mencair dan mengalir keluar dari lubang yang dibuat pada tanah liat, maka tercipta bentuk kosong di dalamnya. Nantinya ke dalam cetakan tanah liat yang berongga itu akan dituangkan logam cair, yang berikutnya akan mendingin dan menjelma bentuk dari logam yang diinginkan. Pada saat itu tanah liat pun dipecahkan hingga muncul benda logam sesuai cetakannya.

Kelihatannya mudah sekali, kan? Sayangnya kami sulit mendapat lemak serupa itu atau bahan pengganti yang setara. Sebelumnya saya sudah mencoba memakai lilin lampu biasa yang mudah meleleh, tapi ternyata cepat mengeras dan sulit dibentuk. Kemudian plastisin yang mudah dibentuk pun dicoba, dan ternyata sulit dilelehkan. Apa boleh buat, para siswa pun saya minta langsung membuat cetakan berongga dengan tanah liat tanpa mengikuti bentuk lilin terlebih dahulu.




Kelompok-kelompok mempersiapkan aneka bentuk cetakan tanah liat

Tiap kelompok menyelesaikan cetakan mereka. Beragam bentuk mereka buat. Dari mata tombak, miniatur kujang, kupu2, daun, hingga model perhiasan. Cetakan tanah liat ini dikeringkan agar bisa digunakan untuk mencetak logam keesokan harinya.

Dan esok pun tiba. Kali ini ruang belajar kami berpindah ke laboratorium IPA, di mana "alat2 memasak" telah disiapkan, yaitu kompor, wajan tanah liat, dan sendok panjang dari tempurung kelapa (yang tadinya simpanan dapur ibu saya di rumah, hehe...). Wajan dan sendok ini memang dipersiapkan khusus karena yang hari ini akan kami "masak" adalah timah, yang tentunya tidak cocok jika dipanaskan di wajan dan sendok logam. Tak lupa sarung tangan karet yang tebal pun disiapkan untuk kelancaran proses belajar ini.

Peralatan tempur dan amunisi: wajan tanah liat, sendok tempurung kelapa, dan timah batangan.

Waktu belajar tiba. Para siswa memasuki lab dan mempersiapkan cetakan mereka. Saya beri arahan, dan mereka siap beraksi! 


Serunya mencairkan timah dan menuangkannya dalam cetakan

Sudah terlihat serunya? Pasti dong. Dan kelanjutan keseruan belajar jadi undagi ini akan kita lanjutkan di cerita berikutnya ya...

Friday, May 23, 2014

Pengumuman Seleksi Nasional Beasiswa SMART Ekselensia Indonesia 2014/2015

Siswa SMART Ekselensia Indonesia dalam kunjungan di Sekretariat ASEAN, Juni 2013 (foto oleh Uci Febria)


Bismillahirrahmanirrahim

Rapat panitia penentuan akhir Seleksi Nasional SMART Ekselensia Indonesia untuk tahun ajaran 2014/2015, pada tanggal 16 Mei 2014 memutuskan nama2 berikut ini sebagai calon siswa angkatan 11 SMART Ekselensia Indonesia, beserta provinsi asalnya:
  1. Iqbal Hidayat Pulungan (Sumatera Utara)
  2. Syukur Hamdan D. (Sumatera Utara)
  3. Dimas Al Bukhori R.M. (Sumatera Barat)
  4. Fadhilah Ardi (Sumatera Barat)
  5. Farhan Kurniawan (Sumatera Barat)
  6. M. Arif Ramadhan (Sumatera Barat)
  7. Zainudin Aris (Sumatera Barat)
  8. M.Yazid Habiburahman (Sumatera Selatan)
  9. Amar Ma'ruf (Bangka Belitung)
  10. Muhammad Syarif (Lampung)
  11. Septian Dwi Pangestu (Lampung)
  12. Ahmad Fauzan Najy (Jabodetabek)
  13. Aji Tri Hartono (Jabodetabek)
  14. Apriadin (Jabodetabek)
  15. Haikal Ramadhan (Jabodetabek)
  16. Laksamana Khatulistiwa (Jabodetabek)
  17. Thorik Saefullah (Jabodetabek)
  18. Syeh Nur Maulana (Jabodetabek)
  19. Muhammad Ramdan (Jawa Barat)
  20. Alfian Fathan Mubina (Jawa Tengah)
  21. Yahya Hidayat (Jawa Tengah)
  22. Usamah Ahmad Ismail (Jawa Timur)
  23. Muhammad Misriannur R. (Kalimantan Selatan)
  24. Edy Kurniawan (Nusa Tenggara Barat)
  25. Imammudin (Nusa Tenggara Barat)
  26. Muzakir (Nusa Tenggara Barat)
  27. Nuzulul Hidayat (Nusa Tenggara Barat)
  28. Rafli (Nusa Tenggara Barat)
  29. Sahrul Mubaraq (Nusa Tenggara Barat)
  30. Wisnu Fathul Munir (Nusa Tenggara Timur)
  31. Muhammad Vito Bada'un (Sulawesi Tengah)
  32. Rifandi Iyada (Sulawesi Tengah)
  33. Muhammad Farhan Saputra (Sulawesi Tenggara)
  34. Tito Alfianto Yahya (Sulawesi Tenggara)
  35. Muhammad Ghifari Shafa (Papua)
Persiapan kedatangan calon siswa di kampus SMART Ekselensia Indonesia sekitar awal Juli 2014 akan diinformasikan oleh panitia daerah masing2 dalam pekan ini.

Selamat kepada generasi kesebelas penerus kegemilangan SMART EI. Semoga menjadi angkatan yang berkah dan bermanfaat bagi umat dan bangsa :)

Saturday, March 29, 2014

Menelusuri Jakarta Lampau

Minggu, 23 Maret 2014.

Rencananya, angkatan 9 yang sekarang duduk di kelas 2 SMP SMART EI, akan mengadakan rihlah atau wisata mentoring tahun ini. Pembina asrama angkatan ini, ustad Sriyono menerima usulan agar rihlah diadakan sekaligus untuk menempa kekuatan mental para siswa, yaitu bepergian jauh dengan menggunakan angkutan umum.

Ke mana kita kemon? (simbol generasi 90an nya muncul :p)

Pergi jauh ramai2 naik angkutan umum hari minggu dari Bogor... Artinya ya naik KRL Jabodetabek ke Jakarta! Lokasi yang akan dikunjungi pun ditetapkan sekaligus sebagai sarana belajar, yaitu Museum Bank Indonesia di kawasan kota tua, Jakarta Barat. Selain sarat pengetahuan yang terkait dengan materi belajar di kelas beberapa waktu lalu, kondisi bangunan dan koleksi museum juga keren untuk nanti jadi latar foto bareng (eh?) dan juga karena berkunjung ke museum ini tidak perlu bayar, alias free alias gratuit, alias gratis! :)

Nah, nah, hari H pun tiba, dan sayangnya ada 7 dari 44 siswa yang tidak bisa ikut wisata bersama. Satu orang karena sakit, dan 6 orang teman lain ikut lomba matematika di Bogor. Ya sudah, kami pun berangkat, 37 siswa bersama saya, ustadzah Retno, dan ustad Sriyono. Seperti perjalanan kakak2 angkatan 8 di tahun 2013 lalu, kami pergi dalam kelompok2 naik angkot, lalu berkumpul di stasiun Bogor.

Saat tiba di Stasiun Bogor, KRL yang siap berangkat ternyata menuju Tanah Abang, bukan Jakarta Kota. Kami tetap menaiki kereta tersebut, dengan niat berganti kereta yang akan langsung menuju Jakarta Kota di Stasiun Manggarai. Dimulailah petualangan naik KRL Jabodetabek yang pertama kalinya bagi sebagian siswa, hehe... Terutama bagi para siswa yang selama ini lahir dan besar di luar pulau Jawa dan Sumatera, di mana moda transportasi kereta api masih merupakan hal yang ada di awang-awang. Sebagian menatap lekat2 pemandangan di luar jendela kereta yang melaju cepat, ada pula yang sengaja berdiri di dalam gerbong untuk menguji ketangguhan :) Alhamdulillah, ini hari Minggu. Gerbong kereta tidak penuh hingga membuat kami terpaksa berdiri lelah berdesak2an sepanjang jalan.


Kami naik KRL dua kali. Satu dari Bogor hingga Manggarai (foto atas), lalu dari Manggarai ke Kota (foto bawah).

Kami tiba di stasiun tujuan, Stasiun Jakarta Kota di ujung jalur. Tinggal keluar stasiun dan menyeberang jalan lewat penyeberangan bawah tanah, tibalah kami di Museum Bank Indonesia.


(bersambung. Cari foto lainnya dulu :p)

Friday, March 28, 2014

"Jangan Takut Melangkah...!"

Itulah kata2 Kak Jayadi Pide, alumni angkatan 3 SMART Ekselensia Indonesia yang pagi ini (Jumat 28/3) kami undang ke sekolah untuk menjadi guru tamu di kelas PKN SMP SMART EI.

Materinya masih mengenai Prestasi Diri, dan Kak Jayadi -saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (BEM FKM UI)- banyak membawa cerita inspirasi bagaimana memaksimalkan potensi agar bisa berprestasi.

Kak Jayadi (foto dari laman www.facebook.com/Jayadi Pide)
Sempat agak berdebar hati ini karena guru tamu spesial ini belum muncul juga pada waktu yang direncanakan, Kak Jay -putra asli Makassar- akhirnya muncul juga dengan selamat di halaman depan sekolah, dan langsung in action!

Kak Jay bisa dibilang meneruskan materi yang sudah saya sampaikan di kelas pada siswa2 kelas 2 mengenai optimalisasi potensi diri. Memulai pemaparan dengan sejenak bernostalgia mengenai masa2 Kak Jay saat masih menjadi siswa SMART, membawa kenangan kehidupan di asrama bersama kawan2 seangkatan, kemudian Kak Jay melanjutkan kisah mengenai "kepakan sayap"-nya setelah lulus dari SMART dan menyandang status sebagai mahasiswa.

Halaman slide yang selanjutnya ditampilkan pun menayangkan sepak terjang Kak Jay saat mulai menapak penjuru Nusantara, dari Lampung hingga Makassar; dari anggota kelompok teater hingga perwakilan Universitas Indonesia dalam (semacam) rapat kerja nasional pengurus BEM Fakultas Kesehatan Masyarakat se-Indonesia.


Kak Jay dengan deretan prestasi dan jejak petualangannya.
"Kamu jangan meniru jejak saya," tutur Kak Jay pada siswa2 kelas 2 SMART EI ini. "Kamu harus membuat jejak sendiri, membangun prestasimu sendiri. Kembangkan potensimu, manfaatkan fasilitas yang ada, dan terutama waktu yang kita punya," tambahnya.


Usai pemaparan, sesi tanya jawab dimulai. Azzam, Syam'un, Vikram dan Yoga bergiliran bertanya. Mulai dari adakah harapan Kak Jay yang belum tercapai, hingga bagaimana caranya menjadi aktivis mahasiswa. Sayang, waktu belajar bersama guru tamu ini sudah selesai, hingga masih ada penanya yang belum terpuaskan. Terpaksa akhirnya harus puas dengan... foto bareng :)

Kapan2 kita belajar bersama lagi ya, Kak Jay! Terima kasih banyak atas kesediaan berbagi motivasi di SMART EI hari ini, walaupun masih menjalani UTS di kampus, hehe... Semoga kami bisa menapak sukses dan berprestasi lebih gemilang di masa depan. Amiiin ....

Tuesday, March 25, 2014

JABODETABEK: Pengumuman Tes Psikologi Seleksi Nasional Beasiswa SMART EI 2014/2015

Presentasi program partai politik siswa kelas 2 SMP SMART EI

Berikut ini informasi pelaksanaan tes psikologi dan wawancara bagi calon siswa angkatan 11 SMART Ekselensia Indonesia tahun ajaran 2014/2015, khusus untuk pendaftar pada panitia daerah Jabodetabek yang telah dinyatakan lulus tes seleksi akademik yang diadakan pada tanggal 23 Februari 2014 lalu.

Tes psikologi dan wawancara di panitia daerah Jabodetabek ini akan diadakan dalam dua gelombang. Lokasi tes sama dengan lokasi tes seleksi akademik, yaitu di kampus SMART Ekselensia Indonesia, Bogor, Jawa Barat.

Gelombang pertama diadakan pada hari Sabtu 5 April 2014, mulai pukul 07.30 WIB. Nama2 calon siswa yang akan mengikuti tes adalah:

  1. Yusuf Iqbal Al Muhajir
  2. Aji Tri Hartono
  3. Fulvian Zahid
  4. Bummy Akbar
  5. Muhammad Aiman
  6. Adibya Ardhana
  7. Thorik Saefullah
  8. Syeh Nur Maulana
  9. Apriadin
  10. Laksamana Khatulistiwa
  11. Ridwan Syah Maulana
  12. Hafidz Nur Faizi
  13. Ahmad Fauzan Najsy
  14. Mustafidul Ulum
  15. Putra Muhamad Nursalam
  16. Bayu Putra Nur Pratama
  17. Ikmal Awaludidn

Gelombang kedua akan diadakan pada hari Minggu 6 April 2014, mulai pukul 07.30 WIB. Nama2 calon siswa yang akan mengikuti tes adalah:

  1. Riza Fazhriansyah Hermawan
  2. Danny Firmansyah
  3. Basori Alwi
  4. Malik Ahmad Al Ghifari 
  5. Haikal Ramadhan
  6. Fadhli Muhamad Adnan
  7. Muhamad Dail Falah
  8. Abiyyu Rais
  9. Nurindra Setiawan
  10. Muhamad Ridwan H.
  11. Muhammad Aditya Hikmal
  12. Fayad Fadwa Zabihullah
  13. Jafar Shodiq Asmali
  14. Davin Harun Arrasyid K.
  15. Muhamad Riandi
  16. Masarga Surya Gumilang
  17. Muhamad Wahyu Nurdin
  18. Akmal Yazid
Pelaksanaan tes psikologi ini bisa berlangsung hingga dua jam dan memerlukan konsentrasi berpikir yang tinggi. Diharapkan para calon siswa dan keluarganya dapat mempersiapkan diri dengan baik dan beristirahat yang cukup agar mendapatkan hasil terbaik.

Sampai jumpa di kampus SMART EI!

Monday, March 17, 2014

"Citius Altius Fortius" di Kelas PKN SMART EI

Ini catatan terbaru ketika kami menarik materi pembelajaran PKN kelas IX mengenai Prestasi Diri bagi siswa kelas 2 SMP SMART Ekselensia Indonesia.

Secarik pengumuman saya pasang di pintu kelas pada pagi hari, menyatakan hari itu, Jumat (14/3) pelajaran PKN diadakan di halaman depan masjid Al Insan. 

Pengumuman *penting :p*

Satu persatu siswa 2A pindah dari kelas Fisika, dan saya bagikan sepotong kertas warna biru atau kuning atau hijau kepada masing2 siswa. Kertas2 ini menunjukkan pembagian kelompok. Setelah kelas di tangga masjid ini dibuka dengan doa, tiap kelompok saya minta menunjuk perwakilan mereka yang paling cepat berlari, paling tinggi melompat, dan paling kuat tenaganya.

Para perwakilan ini kemudian disertakan dalam lomba lari-lompat-dan-adu-otot sebagaimana semangat awal cabang2 lomba dalam pesta olahraga bangsa Yunani kuno, Olimpiade.

Citius, altius, fortius!

Sayang kami tidak sempat mengabadikan saat perlombaan lari kelas ini diadakan. Walau lomba dimenangkan oleh Haidar yang lebih cepat dari dua peserta lain, namun finish yang dilakukan oleh Insan tidak kalah heroik, karena pakai gaya terjungkal saat menerjang semak rendah selepas garis finish :)

Berikutnya adalah lomba lompat. Perwakilan dari tiga kelompok aslinya adalah Dimas, Syam'un dan Haidar (lagi!), tapi ada dua atlet tambahan di kedua ujung barisan yang ingin menguji kebugaran, yaitu Rafi dan Insan (iya, Insan yang tadi itu lagi :p). Siapa yang melompat lebih tinggi?

Rafi, Syam'un, Haidar, Dimas dan Insan melompat bersama
Berikutnya adalah adu otot. Kami tidak punya barbel di sekolah, untuk itu yang paling mudah adalah menggelar adu panco. Karena ada tiga kelompok, perwakilan dua kelompok adu otot duluan. Maka di atas matras biru pertandingan (yaitu keset masjid) berhadapanlah Harsa dan Syam'un...

...dan pertandingan pun dimenangkan oleh ... Harsa! :)
Kelompok ketiga yang mendapat bye di pertandingan pertama pun, mengutus wakilnya, yaitu Ghifar untuk menghadapi Harsa. Pertandingan berikutnya penuh teriakan semangat dan cucuran peluh saat kedua atlet ini mengadu kekuatan otot...

... bisa tebak siapa yang menang?
Ternyata Harsa juga, sodara2!

Nah, berikutnya kami sama2 mencoba mengukur kemampuan diri. Ada beberapa siswa yang bersedia dan dipilih teman2nya untuk mengukur kemampuan fisik mereka. Di samping itu ada juga siswa yang memang kurang memiliki kemampuan fisik untuk bersaing di tiga "cabang olahraga" tadi. Tapi bukan berarti yang kurang kuat fisiknya tidak punya kelebihan ya. Bisa jadi mereka memiliki rasa seni lebih tajam, atau kecepatan otak dalam berhitung dibandingkan dalam berlari. Jadi di akhir pembelajaran hari itu saya minta mereka mencoba melakukan refleksi, lalu menuliskan masing2 lima kelebihan dan lima kekurangan diri mereka, menurut mereka sendiri.

Sesi kelas siang setelah istirahat solat jumat dan makan siang, adalah untuk kelas 2B. Kegiatan awal kelas tetap sama, yaitu pembagian kelompok dan penentuan wakil. Karena mereka baru selesai makan, ya, saya pakai urutan fortius-altius-citius. Adu panco duluan! Di matras biru pertandingan telah siap Galih dan Azzam.

Kedudukan sama kuat. Buku2 jari Azzam sampai pucat...
 Cukup lama juga adu otot ini berlangsung sama kuat, hingga akhirnya kedua pihak mengajukan perubahan arena pertandingan, yaitu di atas sebuah meja yang saat itu sedang tidak punya kesibukan di bawah pohon mangga. Pihak penonton dan sponsor semua sepakat, sehingga meja itu dinaikkan sebentar ke halaman masjid, dan pertandingan dimulai dari awal.

... dan Azzam pun harus mengakui kekuatan Galih.
Babak kedua adu panco ini menghadapkan Galih dengan penantangnya, Ringga.

Saling mengukur kekuatan lawan...
... dan Galih kali ini pun tumbang :p
Lomba kedua, melompat. Mustinya ada Satrio, Ihsan dan Ilham yang mewakili kelompok masing2, namun ada dua atlet lagi yang tertarik unutk ikut berelevasi.

Lompatan Satrio, Ihsan dan Ilham dengan pelompat latar Arman dan Qomar.

Terakhir, siapakah bintang pelari di kelas 2B? Tiga atlet bersiap membela panji2 kelompoknya: Ihsan, Mukhlisin dan Yanwari. Lagi2 ada dua pelari tamu gembira yang sambil tertawa2 tidak ikut menapak garis finish.

Ihsan, Lisin dan Ari, siapa yang kira2 menang?
Berdasarkan teknologi visual yang digunakan hakim garis Ilham di bawah pohon kelapa sebagai garis finish, menyatakan bahwa Lisin lah sang "citius", alias yang lebih cepat dari kedua pesaingnya!

Hari itu kami belajar mengenali potensi fisik kami, minggu berikutnya kami akan gali lagi jenis2 potensi kecerdasan yang kami punya. Di antara para siswa kelas ini ada yang tidak sabar ingin memperlihatkan kelebihannya dalam bernyanyi. Oke... kita coba minggu depan ya :p