Sunday, June 28, 2009

Mengapa Harus "Dhuafa dan Cerdas"?



Melalui facebook, seorang teman yang berdinas di Depdiknas mengomentari tulisan saya sebelum ini, "Selamat Datang...!" Satu hal yang sudah mengganggunya sejak lama adalah mengapa beasiswa seperti yang diberikan oleh Dompet Dhuafa untuk bersekolah di SMART Ekselensia Indonesia ini dipersyarakatkan bagi lulusan SD yang "dhuafa dan cerdas".

"Mengapa harus cerdas? Bagaimana dengan mereka yang dhuafa tapi tidak cerdas, apakah mereka tidak ada hak memperoleh pendidikan yang baik?" gugatnya.

Saya bingung menjawab teman ini. Saya khawatir pemahaman saya tentang kebijakan pemberian pendidikan bebas biaya di sekolah saya akan dianggap tidak masuk di nalar kandidat magister pendidikan ini. Saya tidak biasa menggunakan bahasa tinggi dengan jargon2 ilmiah. Jadi bahasa saya sederhana saja menjawabnya. Begini,

"kalo boleh beramsal, di halaman rumah cuma ada sepetak tanah yang cukup buat sebatang pohon nangka, sementara bibit nangka ada 200. pasti bibit terbaik yang dipilih. bagusnya sih memang ada halaman lain kan buat menanam 199 bibit lain. bisa tolong cariin nggak, bu? :p"

Semoga beliau mengerti ... :D

Saturday, June 27, 2009

Selamat Datang...!

Akhirnya, selamat datang Angkatan Keenam!

Setelah pembentukan panitia seleksi nasional pada Oktober 2008 lalu, 
publikasi seleksi pada November 2008 hingga akhir Februari 2009, 
puluhan panggilan telepon dan layangan email,
pemasangan "iklan" di puluhan milis dan blog,
banjiran ratusan berkas pendaftaran dari segala penjuru nusantara,

disusul ujicoba soal, kemudian tes akademik, tes psikologi, 
ratusan kilometer kunjungan ke rumah calon siswa...
(di sinilah para mitra daerah yang sangat hebat beraksi!)

kami harus menentukan. Sebuah keputusan penting bagi para cendekiawan muda nusantara yang berbakat besar untuk dapat menyalurkan potensi akademis cemerlang mereka. Sebuah peluang untuk masa depan mereka tanpa harus memikirkan biaya yang akan ditanggung keluarga...

akhirnya, 30 siswa lulusan SD dari Sumatera hingga Papua, akan segera bergabung bulan Juli 2009 sebagai siswa Angkatan Keenam SMART Ekselensia Indonesia, di tahun akademik 2009/2010.

Terimakasih banyak untuk rekan panitia seleksi pusat maupun daerah, pemerintah daerah, para psikolog, rekan-rekan wartawan media cetak dan online, para miliser dan blogger, yang sudah menyebarkan informasi dan membantu pelaksanaan seleksi siswa baru SMART Ekselensia Indonesia tahun ini. Juga kepada seluruh orangtua yang mempercayakan putra kesayangan mereka untuk berani mengeluarkan potensi terbaik mereka bersama kami di Bogor ini.

Selamat datang, sahabat-sahabat pembelajar sejati!

*daftar siswa yang diterima di SMART EI untuk tahun akademik 2009/2010 dapat dilihat di harian Republika, Jumat 26 Juni 2009, halaman 7*

Foto: Angkatan Kelima SMART EI, dalam pelatihan Quantum Learning, Parung, Agustus 2008.

Sunday, June 21, 2009

Kami Belajar Globalisasi

Materi kelas 2 SMART Ekselensia Indonesia tahun ajaran 2008/2009.

SK: Memahami perubahan pemerintahan dan kerjasama internasional.
KD: Menguraikan perilaku masyarakat terhadap perubahan sosial budaya di era global.

Hasilnya: makalah dan presentasinya dengan tema: "Pemuda dan Globalisasi"


Sampul kumpulan makalahnya 



Giliran Makmun berpresentasi terakhir

Presentasi makalah Sandi: "Pengaruh Globalisasi terhadap Akhlak Remaja Muslim Indonesia"

Ustadz Haryo memberikan pandangan

Friday, June 12, 2009

Berbagi (Cerita) Buku

"Apa gunanya banyak baca buku 
Kalau mulut kau bungkam melulu" 
(Wiji Thukul)

Hajatan kami di SMART Ekselensia Indonesia, tiap minggu sekali.

Kegiatan ini awalnya tahun ajaran lalu. Sudah tahu ya, para siswa di sekolah kami begitu mencandu membaca buku, terutama buku bacaan, dan tentunya komik lah :). Silakan cek pada daftar peminjaman buku di perpustakaan, betapa satu anak rata2 dalam sebulan membaca 5-6 judul buku dengan tuntas (bukan buku pelajaran ya...). Guru2 mereka pun kalah...!

Tentu sayang kalau mereka hanya membaca saja, seperti tulis Wiji Thukul, tukang becak-penyair yang hilang pada musim penculikan aktivis oleh rezim Orde Baru. Jadinya, saya mengajukan sebuah kegiatan "berbagi cerita buku" atau book sharing yang dilakukan sekali setiap minggu dalam apel pagi hari Selasa. Tujuan saya, selain mengharapkan semua siswa mau berbagi pengalaman membaca buku kepada teman2nya yang lain, ia juga akan mampu menganalisis hikmah yang terkandung dalam bacaannya. Dan tujuan yang tak kalah pentingnya adalah agar siswa sekolah kami yang bisa dibilang jarang berinteraksi dengan "dunia luar", dapat memupuk keberanian untuk tampil di depan umum secara pantas (walau sementara ini, "kalangan umum" ini masih terbatas pada teman2 dan guru2nya sendiri.

Pertama kali muncul untuk berbagi cerita ini, Agustus 2008, paling afdol dimulai dari siswa kelas tertinggi, kelas 5. Waktu itu Mahbubi yang maju membagikan pengalamannya membaca buku Edensor karangan Andrea Hirata, pengarang favoritnya (dan yang membuat saya lumayan geer disebabkan buku yang dibaca Bubi itu dipinjam dari saya, hehe...). Lalu berlanjut ke kelas-kelas lain, berputar-putar... hingga satu tahun kegiatan ini terlaksana setiap Selasa pagi.

Lebih sering ada drama, karena ada saja siswa yang mengklaim tidak siap untuk berbagi cerita dengan teman2nya. Alasannya belum baca buku yang menarik, atau yang paling jelas adalah malu. Iya, masih saja ada siswa kelas tinggi (kelas 4-5) yang malu kalau harus dipajang di muka civitas academika pagi hari, untuk berbicara selama 10 menit.

Tapi... tentu saja banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan ini. Siswa jadi lebih percaya diri dan punya persiapan lebih untuk "manggung" di muka umum. Para guru juga jadi tertantang untuk lebih banyak membaca. Eh, tapi memang tidak semua guru, sebagian kecil saja rupanya :p

Buat saya pribadi, dengan mendengarkan cerita siswa atas buku2 yang dibacanya, saya jadi punya pembanding. Selama ini daftar bacaan saya sekitar 15 judul per bulan. Datanya saya simpan di Goodreads. Boleh lah bersaing dengan para kutu buku junior di sekolah kami. Tapi kadang saya suka malu sendiri: kenapa bacaan saya di luar buku teks pelajaran kok kebanyakan novel ya, hehehe....

Sekali2 mau baca buku tentang fungsi otak ah... :)

Friday, June 5, 2009

Membuat Program Organisasi Internasional

Kalau lihat foto di samping, mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang ditunjuk oleh para siswa ini?

Yah, kalau boleh nampang sedikit, mereka nampang secara ilmiah. Mereka memperhatikan
dan saling nenunjuk poster2 kampanye lembaga internasional. Ada poster ASEAN, ILO, IDB, UNESCO, UNDP, WHO, Uni Eropa, dan lain-lain.

Semua itu poster buatan mereka sendiri, karena ini masih materi IPS terpadu untuk kelas IX.

Standar Kompetensi: Memahami perubahan pemerintahan dan kerjasama internasional.
Kompetensi dasarnya adalah mendesripsikan kerjasama antarnegara di bidang ekonomi.

Tujuan pembelajaran kali ini secara kognitif adalah siswa mampu membedakan kerjasama-kerjasama internasional di bidang ekonomi dan menjelaskan tujuan kerjasama internasional di bidang ekonomi. Secara afektif, diharapkan siswa mampu menerima perbedaan dan bekerja sama dengan bangsa lain serta memanfaatkan peluang untuk menjalani kerjasama ekonomi internasional.

Nah... nah... kalau setiap siswa diminta menghafal latar belakang, bidang usaha serta negara2 anggota organisasi internasional tersebut, tidak akan efektif. Keterlibatan mereka kurang terhadap organisasi2 tersebut. Maklum, anak pinggiran Bogor :) Maka dalam pembelajaran saya buat mereka dalam kelompok yang terdiri dari dua orang yang harus menguasai luar dalam masing2 organisasi. Tiap kelompok harus membuat kampanye sebuah program organisasi mereka dalam bentuk poster; dipresentasikan di hadapan "warga Indonesia" (teman2 sekelas mereka) dan meminta dukungan teman2 kelas lain pada poster2 yang ditempel di muka kelas. Ya seperti foto di atas itulah...

Lucu2 sebenarnya. Bikin senyum. Karena itulah harapan siswa Indonesia pada lembaga2 internasional yang selama ini kesannya tinggiii... sekali di langit. Tak terjangkau.


Sunday, May 3, 2009

Kamu Berani Memekarkan Daerah?

Kali ini, soal mengenai materi Pendidikan Kewarganegaraan untuk kelas IX.

SK:  Memahami pelaksanaan otonomi daerah
KD:  Mendeskripsikan pengertian otonomi daerah 

Menjelaskan pentingnya partisipasi  masyarakat dalam perumusan kebijakan publik di daerah.


Saya ambil sebuah artikel, lalu saya minta anak2 mengemukakan pendapat mereka, sebagai penilaian ulangan harian.



Jajak Pendapat: Publik Bogor, Bekasi, Karawang, dan Depok 
Setuju Pembentukan Provinsi Baru

Sebagian besar responden (80,1%) di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Bogor, Kabupaten Bogor, Kota Depok dan Kabupaten Karawang setuju terbentuknya provinsi baru yang terpisah dari Jawa Barat. Data itu diperoleh dari hasil jajak pendapat yang dilakukan Lembaga Pemberdayaan dan Pengembangan Publik Daerah (LP3D) pada 14 Januari sampai 24 Februari 2005. Ada 1.000 responden yang dipilih secara acak yang dimintai menjawab 10 pertanyaan. 
Sepuluh pertanyaan yang diajukan kepada responden adalah apakah pembentukan provinsi baru akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, efektivitas kordinasi pemerintahan, potensi pertambangan dalam peningkatan APBD, fungsi pembentukan provinsi baru, ke-6 daerah sebagai kawasan industri terbesar, Pusat Pengembangan SDM, kelayakan infrastruktur, potensi peningkatan retribusi dan PAD, potensi jumlah penduduk dan percepatan pembentukan povinsi baru.
Menurut Direktur LP3D, Hedi, 534 (80,1%) responden yang setuju, terdiri dari 64,4 % laki-laki dan 35,6% perempuan. Dari segi usia sebanyak 42,3 persen berusia kurang dari 30 tahun, 40,8 persen berusia 30 sampai dengan 45 tahun, dan 16,9 persen berusia lebih dari 45 tahun. Dari segi pendidikan sebanyak 47,6 persen berpendidikan SMA, 34,5 persen lulusan S1, 9,7 persen lulusan S2, 1,2 persen lulusan doktor dan lain-lain sebanyak 7,1 persen.
Dari poling, ada 16,7 persen responden yang ragu-ragu dan 3,2 persen yang tidak setuju terhadap pembentukan provinsi baru. Menurut Hedi, pembentukan provinsi baru ini dinilai sangat dan sesuai dengan payung berdasarkan Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang mensyaratkan pembentukan provinsi berdasarkan syarat administrasi, teknis, dan fisik kedaerahan.
Berdasarkan kajian LP3D, Hedi menyebutkan kemampuan ekonomi, potensi daerah, sosial budaya, sosial politik, kependudukan, luas daerah, pertahanan, keamanan dan faktor lain yang menunjang otonomi daerah bagi enam daerah ini sudah layak dan sangat menunjang.
Dicontohkan Hedi, soal kemampan ekonomi, PAD, dan APBD di enam daerah ini sangat menggembirakan. “Anggaran untuk pembangunan belanja langsung sudah di atas Rp 140 miliar, Pendapatan Domestik Regional Bruto ke-enam wilayah mencapai puluhan triliun dan pendapatan per kapita di atas nasional.” Sementara potensi daerah yang dimiliki juga sangat luar biasa seperti pertambangan dari mulai golongan C sampai A, pengembangan industri sektor jasa dan perdagangan potensi agrobisnis dan agroindustri, perhubungan, potensi pertanian, dan perikanan masih memilki potensi yang luar biasa.
(Tempo Interaktif, Maret 2005)

Berdasarkan artikel di atas, kerjakan soal-soal berikut ini!
1.Tuliskan kembali sepuluh aspek yang ditanyakan pada responden sebagai bagian usulan pemisahan dari Provinsi Jawa Barat!

2.Dengan gambaran di atas, apakah kabupaten dan kota di atas yang ingin memisahkan diri dari Provinsi Jawa Barat sudah siap dan memenuhi persyaratan untuk menjadi sebuah provinsi baru? Kaitkan jawabanmu dengan menunjukkan syarat-syarat pemekaran provinsi!

3.Seandainya kamu adalah anggota DPRD Jawa Barat, setujukah kalian dengan keinginan daerah-daerah tersebut untuk memisahkan diri dan membentuk provinsi baru? Jelaskan alasanmu!

4.Apakah menurutmu keinginan kabupaten dan kota yang ingin membentuk provinsi baru tersebut dapat memicu disintegrasi bangsa? Jelaskan alasanmu!

5.Sebutkan enam bidang yang tetap diurus oleh pemerintah pusat meskipun otonomi daerah sudah dilaksanakan!


Saturday, May 2, 2009

Perpustakaan dan Pemberdayaan Umat

... Dalam filsafat, atau agama, atau etika, atau politika, 
dua tambah dua mungkin sama dengan lima, 
tetapi ketika orang merancang senjata atau pesawat terbang, dua tambah dua harus empat. 

George Orwell, Nineteen Eighty-Four (1949)

Di SMART Ekselensia Indonesia, tempat saya mengajar sejak dua tahun lalu, saat ini ada 174 siswa yang haus meneguk pengetahuan dari cawan milik sekolah. Cawan itu tak hanya ada di ruang kelas lewat susunan kurikulum masing-masing guru, tapi juga di ruang perpustakaan yang koleksinya lebih dari 5000 judul buku, dari segala subyek. Ada buku-buku teks pelajaran, juga ada buku biografi, sejarah, ilmu pengetahuan populer, keterampilan, kesehatan, olahraga, musik, psikologi, hingga sastra dan komik. Sungguh tempat yang sangat potensial jika kita berharap bisa memberdayakan umat agar mandiri untuk masa depannya.


Tengoklah isi rak-rak buku di ruang perpustakaan ini. Secara acak, ambil satu buku dari sembarang rak, dan kita bisa tentukan seberapa dicintainya buku ini oleh pembaca. Buku-buku di rak yang sebagian besar masih mulus, rapi, jarang berpindah, dan begitu sedikit kartu peminjam di bagian belakangnya tergores sebuah nama, merupakan tanda buku ini kurang dicintai pembaca yang sayang untuk menyentuh dan membawanya. Dan sebaliknya, ada buku-buku yang sampulnya lusuh walau terbungkus plastik, ujung-ujung halamannya keriting, atas dan bawah. Puluhan nama siswa bergiliran tertera sebagai peminjam di kartu peminjamannya. Inilah buku yang disukai pembaca, menawarkan keasyikan menikmatinya.

Nama-nama siswa di kartu peminjaman ribuan buku itu menjadi tanda betapa banyak siswa SMART EI yang begitu mencintai buku. Ada puluhan siswa yang selama satu bulan bisa meminjam belasan buku. Memang sebagian ”buku-buku laris” itu adalah buku fiksi atau buku populer. Namun itu sudah menjadi hal yang patut juga disyukuri karena berarti para siswa bersedia meluaskan wawasan dengan membaca.

Hal sebaliknya terjadi saat mencari nama-nama guru yang tercatat reguler sebagai pembaca buku perpustakaan. Sangat sulit menemukan sepuluh nama guru, misalnya, yang dengan teratur memiliki catatan peminjaman buku lebih dari lima judul per bulan. Jikalau ada, ternyata buku-buku yang dipinjam lebih sering adalah buku yang termasuk ”teacher's resources”, atau yang berhubungan dengan mata pelajaran yang diampunya.

Kebiasaan membaca rupanya masih belum berakar di kalangan guru yang berkarya di Bumi Pengembangan Insani. Bila dibandingkan dengan semangat membaca yang dimiliki para siswa maka kesenjangannya benar-benar terlihat. Ambil contoh, buku inspirasional karangan Andrea Hirata yang paling laris penjualannya di Indonesia dalam empat tahun terakhir, Laskar Pelangi. Empat eksemplar buku ini dimiliki oleh perpustakaan SMART EI, masih laris diantri oleh siswa. Namun guru-guru mereka yang telah menuntaskan membaca novel setebal 530 halaman itu, mungkin tak lebih dari sepertiga jumlahnya. 

Jangan lagi bertanya, berapa guru yang tahu atau pernah membaca Sophie's World, sebuah karya filsafat yang mendunia dari Jostein Gaarder atau karya klasik Harper Lee yang lebih dari lima puluh tahun masih dibaca anak-anak sekolah di Amerika Serikat, To Kill a Mockingbird. Dua buku ini edisi bahasa Indonesianya sudah terbit dan menjadi koleksi perpustakaan SMART EI. Atau silakan beri pilihan jawaban bebas kepada para guru ini, tanyakan berapa jumlah buku yang dimiliki dan dibacanya dalam satu tahun terakhir. Tidak hanya buku-buku yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diampunya, melainkan juga buku-buku umum dan populer. Silakan juga tidak percaya, namun akan ada saja guru yang sudah sekian lama tidak lagi membaca buku-buku yang terkait dengan mata pelajaran yang diampunya, sehingga bahan ajar yang diberikan kepada para siswa hanya berupa ilmu peninggalan masa lampau. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pun dibuat hanya dengan mengganti tahun pelaksanaan.

Jika guru bersangkutan juga tidak memperkaya pengetahuannya dengan buku-buku pengembangan kurikulum, berarti ilmu yang diajarkannya sudah tidak selaras lagi dengan tuntutan perkembangan saat ini. Silakan bayangkan sendiri, seperti apa produk pendidikan yang dihasilkan oleh guru yang kurang membaca semacam ini. Wajar, ”guru yang tidak suka membaca” menjadi salah satu catatan pemuda Izza sebagai hal yang tidak mengembangkan pendidikan di sekolahnya.

Izza, lengkapnya Muhammad Izza Ahsin Sidqi, remaja yang telah menulis buku Dunia Tanpa Sekolah (2007). Saya belum pernah membaca buku itu, jadi tak bisa berkomentar mengenai isinya. Namun saya tertarik pada sedikit biografi Izza yang saya baca dari sebuah web-blog. Penulis muda kelahiran tahun 1991 ini memilih untuk tidak lulus dari sebuah SMP favorit di sebuah kota di Jawa Tengah. Sejak tahun 2006 ia dibebaskan oleh orangtuanya melepaskan diri dari sekolah formal. Alasan Izza, sekolah lamanya itu “lambat memintarkan”, guru-gurunya “konservatif, pemarah, dan tidak suka membaca”, juga menerapkan “berbagai aturan sekolah yang membelenggu kemauan belajar”. Izza yang konon berkemauan keras menjadi penulis profesional, merasa lebih baik berguru pada ratusan jilid buku yang sudah dibacanya sejak kecil. Ilmu bisa datang tanpa sekolah, demikian prinsip Izza.

Secara pribadi saya tidak melihat ada kesalahan pada pemikiran Izza. Saya malah kagum, remaja ini sudah membaca begitu banyak, lebih dari 600 buku populer maupun klasik. Buku-buku Pramoedya Ananta Toer hingga tujuh seri Harry Potter. Sangat hebat tentunya, karena dia bisa mengambil ilmu dari apa-apa yang dibacanya. Hebatnya malah sampai dua perkara. Pertama, seorang remaja bisa memiliki hobi membaca yang mengalahkan hobi menonton televisi dan permainan komputer seperti jamaknya remaja zaman sekarang. Kedua, sungguh membaca itu bukan pekerjaan mudah, buktinya banyak orang membaca, orang dewasa sekalipun, tapi tak menghasilkan apa-apa.

Saya bisa melihat Izza bagai seorang yang tak putus belajar dari buku-buku yang berbicara ramah padanya, dari guru-guru tak tampak yang tak pernah memarahinya. Semua buku dan guru itu bermurah hati memberi semua yang mereka punya, meninggalkan jejak ilmu yang berebut-rebut tempat di kepala pembacanya. Alhasil, pembaca yang tak kuat pasti semaput.

Hal ini dalam pikiran saya paling mungkin telah terjadi pada seorang Izza. Dia merasa telah menguasai jejak-jejak ilmu yang datang padanya. Ia kemudian bertindak sesuai titah guru idolanya itu. Bebaskan dirimu, raih cita-citamu, lepaskan sekolahmu. Sebagai seorang guru di institusi sekolah formal, saya tertegun membaca jalan hidup Izza. Betapa perasaan saya akan tertusuk bila ada siswa yang saya ajar memutuskan keluar karena tidak menikmati belajar di tempat saya menikmati mengajar. Betapa hati saya akan terluka jika seorang siswa tidak bersedia menyerap ilmu yang saya tawarkan. Lebih jauh lagi, batin saya terguncang manakala siswa tersebut mencerca seluruh institusi pendidikan formal sebagai penjaranya, lahir batin.

Banyak hal yang bisa jadi penyebab siswa berpotensi seperti Izza memutuskan pamit dari sekolah. Namun entah kenapa, saya malah terkenang potongan kalimat dari novel karya terakhir George Orwell, Nineteen Eighty-Four di atas. Kalimat yang lagi-lagi membuat saya berkhayal: bayangkan guru yang tidak membaca dikelilingi oleh siswa-siswa ”gila baca”. Sang guru tak akan bisa menjelaskan, mengapa ada cabang ilmu yang mengajarkan bahwa ”dua tambah dua tidak sama dengan empat”. 

Jika guru banyak membaca berbagai hal niscaya ia bisa jadi penerang bagi kegalauan siswanya. Saya percaya bahwa untuk tingkatan sekolah menengah, siswa masih sangat perlu dibimbing menuju masa depan. Sebutlah ketika dalam Pendidikan Agama Islam telah diajarkan bahwa seorang muslim tidak dibenarkan menikah dengan non-muslim. Padahal dalam cerita buku yang dibaca siswa, pernikahan pasangan beda keyakinan itu dijalankan oleh tokoh “jagoan” dan digambarkan tanpa tentangan berarti. Siswa bisa saja mengambil hal yang dianggapnya lebih menyenangkan baginya sebagai pedoman, jika guru tidak tanggap dan menjelaskan lebih jauh perkara tersebut dengan pendekatan yang bisa diterima siswa.

Seorang guru geografi misalnya, saat mengajarkan perairan dan terusan di dunia, sering luput menjelaskan bagaimana Terusan Suez yang diperebutkan Inggris dan Perancis kemudian dinasionalisasi oleh pemimpin Mesir Gamal Abdul Nasser. Guru bahasa Inggris yang hafal aneka irregular verbs jarang yang mengerti riwayat kamus bahasa Inggris pertama yang otoritatif, Oxford English Dictionary, belum tentu akan terwujud tanpa bantuan William C. Minor, akademisi yang menghuni Rumah Sakit Jiwa Broadmoor. Guru-guru seperti ini akan kelabakan jika ada siswa menyimpang sedikit saja dari rancangan kurikulum yang telah disusunnya itu.

Kita tentunya tidak mengharapkan seorang siswa yang potensial macam Izza menyusul memalingkan muka pada pendidikan formal. Sudah waktunya semua bacaan luar biasa di perpustakaan SMART EI dibaca bersama oleh guru dan siswa, hingga menciptakan situasi pemberdayaan bagi masa depan civitas academica SMART EI.

Ditulis untuk Lomba Esai LPI menyambut Hari Pendidikan Nasional 2009