Tuesday, January 29, 2013
Back to School!
Hal pertama adalah saat saya dan ustadzah Retno mengumpulkan surat2 dari berbagai wilayah Nusantara berisi kisah pulang kampung para siswa SMART. Dari 60 siswa yang telah diminta bercerita, alhamdulillah setengahnya telah berbagi cerita dan mengirimnya ke sekolah.
Cerita2 ini kami sortir, lalu kami pajang di mading ekskul jurnalistik sebagai tugas khusus "citizen journalism", atau semacam itulah.. :)
Kegiatan kedua adalah jalan2 lintas alam siswa dan guru di hari pertama kegiatan belajar mengajar, Senin 28 Januari lalu. Walau tidak semua guru bisa ikut karena ada tugas di luar dan dalam sekolah, kegiatan di wilayah perumahan Telaga Kahuripan ini cukup seru dan tentunya bikin capek, karena rutenya jauh, dan panas :)
Tapi pokoknya, resmi ga resmi, capek ga capek, SMART EI telah siap belajar lagi semester ini.
Ayo sama2 berjuang...!
Thursday, January 3, 2013
Olimpiade Humaniora Nusantara 2013
Setelah setahun berlalu, setelah puluhan sekolah bertanya2 penasaran... Olimpiade Humaniora Nusantara, tahun ini siap digelar! Acara puncak akan berlangsung selama hari Rabu-Kamis, 27-28 Februari 2013, di kampus SMART Ekselensia Indonesia, Parung, Bogor.
Kompetisi bidang humaniora paling keren untuk siswa sekolah menengah ini tahun ini melebarkan sayap. Pesertanya adalah siswa SMP/SMA sederajat se-Jawa. Ramai, kan? Bidang lombanya ada Lintas Nusantara (SMP), karya tulis ilmiah (SMP/SMA), storytelling (SMP/SMA), Opera van Jampang (SMP/SMA), dan debat Bahasa Arab (SMA). Ada juga Kompetisi Futsal, khusus untuk tingkat SMP dan pesertanya dari wilayah Jabodetabek.
Tertarik ikut? Ayo segera mendaftar! Pendaftaran dibuka hingga tanggal 8 Februari 2013. Informasi lengkap silakan cek di www.olimpiadehumaniora.com.
Selamat bergabung, selamat berjuang...!
Monday, December 3, 2012
Lebih Enak Dijajah Belanda atau Jepang?
| Renald menjadi pemandu debat bagian pertama |
Wednesday, November 28, 2012
Ular Tangga Perang Dunia 2 dan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
| Kelas 2B dan ular tangga mengenai Perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang |
| Kelas 2B dengan pose bareng spesial kelas IPS SMP SMART EI :) |
| Pose bareng spesial kelas IPS SMP SMART EI versi kelas 2A |
| Kru lengkap 2A dengan karya besar ular tangga mempertahankan kemerdekaan Indonesia. |
Sunday, November 11, 2012
Bermain Ular Tangga di Medan Perang
Iya tuh... eh, tapi nggak juga sih, karena medan perangnya terjadi di masa lalu, hehe... Pertama medan perang Dunia II dan masa pendudukan Jepang di Indonesia, dan medan perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di dua medan perang akbar yang berlangsung bertahun2 silam ini, digelar permainan ular tangga oleh para siswa kelas 2 SMP SMART Ekselensia Indonesia.
Ular tangga ini adalah produk khusus, dibuat untuk mendukung pembelajaran IPS Terpadu Materi Perang Dunia II dan Pendudukan Jepang di Indonesia, dan Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Bagi banyak siswa, materi pelajaran sejarah kadang memang membosankan jika dipelajari dengan hanya membaca dan mendengarkan penjelasan guru. Pemikiran yang sering muncul dalam benak sebagian orang saat mendengar kata2 "pelajaran sejarah" adalah "apa siy pentingnya mempelajari peristiwa masa lalu itu?"
Maka dari itu, perlu ada cara pembelajaran lain yang lebih baru agar bisa menarik orang2 itu, termasuk para siswa sekolah menengah, untuk "menapaktilasi" peristiwa penting yang telah lalu agar bisa diambil manfaatnya bagi masa depan (cieee... kalimatnya ustadzah Vera... :p).
Sebagai guru yang mengampu materi IPS Terpadu kelas VIII dan IX, jujur saja saya juga kadang bosan menjelaskan materi yang sama setiap tahun walaupun peserta didiknya sudah berganti angkatan. Apalagi, materi sejarah sebenarnya stagnan karena fakta di dalamnya kan tidak bisa berubah. Belum lagi saat materi ini sudah pernah diterima siswa saat di sekolah dasar atau dari media massa. Karena itu bisa jadi malah ada siswa yang merasa bosan karena merasa sudah tahu! Dan inilah tantangan berat bagi kami para guru. Ya kan? Ya kan? *cari dukungan dari sesama teman guru :p
Untuk tahun ajaran ini, saya menggelar berbagai metode pembelajaran agar materi sejarah ini bisa dipahami oleh siswa. Metode pertama, dengan cara mendekatkan diri pada kejadian masa lalu tersebut agar peristiwa sejarah itu dapat ditangkap semangatnya oleh siswa. Tentu tidak dengan membuka pintu ajaib Doraemon atau menggunakan mesin waktu dari perusahaan ITC dalam novel Timeline-nya Michael Crichton ya, tapi dengan mendatangi lokasi penyimpanan benda bersejarah dari masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Museum Satria Mandala pekan lalu.
![]() |
| Siswa kelas 2 SMP SMART Ekselensia Indonesia di Museum Satria Mandala |
Metode kedua adalah metode debat. Topiknya tentu berkesesuaian dengan materi. Ini kami lakukan di kelas tadi. Tapi ceritanya di posting yang lain ya :p. Dengan berdebat yang sesuai aturan, maka para siswa akan ditantang untuk memperdalam pengetahuannya mengenai materi yang diajukan, dan terlatih untuk mengemukakan pendapatnya atas topik tersebut secara tepat agar bisa meyakinkan orang lain.
Metode ketiga (maaf, nggak tahu apa namanya), ya metode bermain :). Untuk permainan inilah kami membuat ular tangga. Bukan sembarang ular tangga, tapi masih sesuai materi.
Nanti masih ada metode lain yang sudah direncanakan, yaitu bermain peran lewat sosiodrama. Masih dalam materi yang sama... tapi karena belum dilaksanakan, maka ceritanya bersambung saja ya...
:)
Saturday, November 10, 2012
(Masih) Sehari Mempertahankan Kemerdekaan di Museum Satria Mandala
| Pak Sarmadah dari Pusjarah TNI bersiap memandu rombongan SMP SMART Ekselensia Indonesia di Museum Satria Mandala |
| Sutrisno, Jefri Apriansyah dan Dion Suryadi di bawah lukisan Panglima Sudirman |
| Andrian Eka Wijaya, Riki Amrizal dan Farid Ilham Muddin gantian berpose di bawah lukisan lain Panglima Sudirman |
| Ustadzah Uci bersama Andrian, Ilyas dan Jefri di depan patung dada Jenderal AH. Nasution |
| Ada Nanang, Dion, Doni, Qulub dan Abdi bersama patung dada Jenderal Suharto |
| Waah... rame! Ada Faisal, Afdal, Affan, Riki, Ilyas, Fatih, Azmi dan Kabul berpose dekat koleksi rudal di halaman museum (eh, itu rudal atau bukan, ya? :p) |
| Masih Riki dan kawan2 di halaman belakang museum |
| "Kami tidak naik, kok," kata Rajab menunjuk label yang dipegang Ilyas. "Iya, kami hanya nongkrong di depan pesawat ini saja," sahut Kabul. |
Thursday, November 8, 2012
Sehari Mempertahankan Kemerdekaan
Bersama ustadzah Retno sang guru Bahasa Indonesia yang keren itu, saya merencanakan kunjungan bersama para siswa di satu hari di mana pembelajaran kami bisa digabungkan. Materi bahasa Indonesia adalah membuat tulisan rubrik berita, jadi kunjungan siswa SMART ke museum ini bisa jadi bahan berita, kan... Setelah menaikturunkan jari menyusuri jadwal pelajaran sekolah selama satu minggu, akhirnya ketemu juga hari di mana pembelajaran IPS bisa digabung dengan bahasa Indonesia, dan sekalian dengan bahasa Inggris. Hari itu adalah hari Kamis, dan dari sekian hari Kamis di bulan ini, yang cocok adalah Kamis tanggal 8 November 2012. Hari ini.
Nah, saya belum pernah mengunjungi museum PETA sebelumnya. Karena itu saya cari2 informasi secara lisan dari para pengajar SMART EI yang berdomisili di Bogor. Eh, ternyata sedikit sekali info yang bisa saya dapatkan dengan akurat. Maka Mbah Google kembali jadi andalan. Klik sana, klik sini... yak, cocok. Jadi, mari kita buat kunjungan pendahuluan.
Dengan menimbang bahwa biasanya museum di banyak belahan dunia ditutup untuk kunjungan pada hari Senin, maka Sabtu siang 3 November 2012 lalu, saya dan ustadzah Retno pun jadi backpacker dadakan di Kota Bogor. Naik turun angkot menyandang ransel, akhirnya menjelang pukul tiga kami tiba di Museum PETA itu, di Jalan Jenderal Sudirman. Wah, rupanya sudah cukup sering juga bangunan ini saya lewati, baik dalam keadaan sadar maupun pingsan :p. Di halamannya terparkir dua buah tank dan dua patung ukuran besar.
![]() |
| Patung Shodanco Supriyadi, pemimpin perlawanan PETA di Blitar |
Mendekati pagarnya yang tertutup... kok kondisinya mengkhawatirkan, ya? Apakah museum ini tutup?
![]() |
| Pagar dalam Monumen dan Museum PETA |
Pak Yadi dan rekannya, Pak Cucu, menerima kami dengan ramah. Mereka pun menjelaskan bahwa museum ini ternyata tertutup untuk kunjungan umum pada hari Sabtu dan Minggu, bukan hari Senin seperti museum lain. Setelah mendengar niat kunjungan kami, mereka sangat gembira mendengar rencana kedatangan 35 siswa nusantara dari SMART EI untuk mempelajari seluk beluk tentara Pembela Tanah Air. Namun sayang disayang, untuk kunjungan yang kami rancang tanggal 8 November ini tidak bisa mereka penuhi karena museum ini memiliki jadwal persiapan pameran Hari Pahlawan di Jakarta.
![]() |
| Pahatan di kompleks Monumen PETA. Di balik dinding setengah lingkaran ini ada relief perjuangan bangsa Indonesia. |
Yaaa... gagal deh membawa siswa melihat lokasi bumi pelatihan tentara PETA di Bogor ini. Setelah mengambil beberapa gambar lagi di dekat tank yang terparkir di halaman depan, kami meninggalkan lokasi. Dengan terisak2 (this is a "lebay" phrase, of course), kami menyusun rencana baru. Mbah Google kembali jadi jagoan, kami mendapat nomor telepon Museum Satria Mandala di Jakarta. Kring...kring... dibantu Ustadzah Cici dari bagian Humas SMART EI, pembelajaran di luar sekolah hari ini dialihkan ke museum yang tadinya adalah Wisma Yaso, tempat kediaman istri presiden pertama Indonesia, Ratna Sari Dewi.
Karena pindah lokasi, pindah pula tujuan pembelajaran kami. Eh, cuma pembelajaran IPS aja sih yang berubah. Dari tujuan mempelajari kondisi di masa pendudukan Jepang, saya tarik tujuan pembelajaran bab berikutnya, yaitu memahami upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dan di sanalah kami tadi, museum Satria Mandala. Berangkat dari sekolah sekitar pukul 6.15 WIB, menyusuri jalan menuju Jakarta yang you know lah, macet di pagi hari, kami tiba sesaat sebelum pukul 9 WIB, yaitu saat pintu museum mulai dibuka untuk kunjungan.
Turun dari mobil, pikiran saya melayang pada masa bangunan ini masih berfungsi menjadi kediaman nyonya presiden tahun 1960-an. Hmm... it's a vast home, then. Halaman luasnya kini berubah menjadi lapangan parkir mobil pengunjung museum dan lokasi pameran beberapa replika pesawat dan peralatan militer. Masuk ke dalam, ternyata lantai bawah tanah tempat ruang senjata tadinya adalah kolam renang pribadi nyonya presiden. Waauw... (nggak pake koprol, suwer :p).
(bersambung)



