Thursday, August 29, 2013

"Dor!" Tembak Menembak Anti Mati Gaya

Duuuh... saya mati gaya lagi ... :(  Nggak boleh... nggak boleh. Harusnya nggak boleh mati gaya kalau sedang membagi ilmu, ya. Tapi memang kenyataan tidak selalu seindah harapan. Jadi mari kita siasati mati gaya itu dengan... mati tertembak, hehe...

Kamis ini saya tidak sempat seperti biasanya membuat undian "ustad cilik" mana yang akan membantu menyegarkan  suasana belajar baik di kelas 2A maupun 2B. Waktu mengajar 2A tidak ada masalah, karena situasi juga masih cukup segar, yaitu dimulai sekitar pukul 10 pagi. Lalu datang giliran belajar bersama 2B, dua jam pelajaran terakhir hari ini.

Kaki2 saya sudah terasa lelah, maunya duduk manis tapi kan ga mungkin. Mana bisa begitu. Apalagi kami sedang menghabiskan latihan materi bab Ketenagakerjaan. Tapi beberapa siswa mulai pasrah terlena kantuk padahal masih ada waktu 15 menit sebelum bel tanda pelajaran terakhir usai dibunyikan. Saya mulai menyesali kecerobohan saya tidak membawa daftar undian "ustad icebreaker" siang ini, padahal ide saya sedang mentok untuk memikirkan pengalih kantuk yang bisa diterapkan.

Saya tawarkan posisi relawan icebreaker pada beberapa siswa yang duduk di depan dan kelihatan mengantuk. Dua orang menolak dengan alasan sama: "nggak ada ide, ustadzah". Lalu siswa ketiga, Ihsan, tadinya sudah bilang tidak bersedia juga, tapi kemudian mengangguk dan berdiri. Karena sudah ada ustad pengganti, maka tempat duduk Ihsan yang kosong langsung saya tempati. Hanya beberapa detik karena Ihsan kemudian langsung menyeru, "Ayo, ayo... Semua berdiri. Kita buat lingkaran"

Eaaa... baru juga duduk sebentar :p. Tapi sebagai murid pengganti yang patuh, saya pun ikut berdiri dan membuat lingkaran. "Ustad Ihsan" memimpin kami menghitung satu demi satu hingga lengkap 23 orang. Rupanya ini adalah permainan "dor!", di mana orang dengan nomor yang disebut harus jongkok dan membiarkan dua orang di kiri dan kanannya saling menembak hingga mati. Mungkin karena niatnya ingin cepat duduk, maka begitu permainan dimulai, sayalah korban pertama yang harus beristirahat dengan tenang, hehe...

Namun permainan terus berjalan dengan cepat. Tidak ada lagi siswa yang mengantuk karena semua harus berkonsentrasi agar tidak tertembak. Hingga akhirnya menyisakan dua penembak yang bertahan, Aprulloh dan Satrio.

Aprulloh dan Satrio, two last men standing. Eh enggak deh, ternyata Apung dengan cepat menembak Rio yang tidak siaga hingga jatuh...
... dan Rio pun gugur kena tembak Apung. tapi masih bisa meninggalkan lapangan dengan  senyum lebar dan kepala tegak. Dan semua yang tertembak lebih dahulu ikut tersenyum bahagia :)
Semua pun bersorak gembira... Saya juga tentu saja. Alhamdulillah, waktu 10 menit sebelum bel terakhir berbunyi bisa dijalani para siswa menyelesaikan latihan dengan sikap tubuh tegak, tanpa mati gaya lagi :)

Sunday, August 18, 2013

Napak Tilas Proklamasi Kemerdekaan 2013


(judul posting ini standar banget siy... Ga ada yang lain? *getok yang bikin judul *kesakitan sendiri :p)

Saat di kelas sebelum mulai libur lebaran lalu, saya sempat sampaikan pada para siswa kelas 2 di SMART EI, bahwa biasanya ada acara napak tilas proklamasi kemerdekaan RI yang diadakan di Jakarta. Tahun ini kalau bisa sih saya akan usahakan agar siswa SMART bisa ikut kegiatan ini. Pas banget, kan saat ini kami sedang mempelajari bab peristiwa seputar proklamasi dalam pelajaran IPS Terpadu

Banyak tangan teracung ke atas, menyatakan mau ikut... mau ikut, begitu seru mereka. Benar mau ikut, walau acara ini diadakan saat kalian masih libur? pancing saya. Iya, iya, nggak apa2, yang penting jalan2 ke Jakarta... jawab mereka lagi.

Saya tidak bisa langsung menunjuk siapa saja yang bisa ikut, karena acara ini masih harus saya pastikan dulu. Googling sana sini, kirim SMS dan pesan whatsapp kiri kanan, eh belum ada kabar jelas. Yah, biar jelas, mari kita langsung datangi sumbernya.

Hari Rabu (14/8) saya pun berkunjung bersama dua adik sepupu saya ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta Pusat. Museum ini cukup mudah dijangkau dengan kendaraan umum dari arah Senen, Kampung Melayu atau Ciputat via Bundaran HI.

Kami tiba menjelang pukul 3 sore dan museum yang sekitar 68 tahun lalu menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda itu lumayan sepi. Saat itu mungkin cuma ada belasan pengunjung, sudah termasuk beberapa wartawan media cetak dan televisi. Mungkin mereka dapat tugas liputan pendahuluan untuk feature peringatan proklamasi kemerdekaan RI.. (mantan redaktur sotoy beraksi kembali :p)

Tidak ada orang yang kelihatan sebagai petugas atau pemandu museum itu, kepada siapa kami mungkin bisa menanyakan berbagai hal baik mengenai museum maupun acara napak tilasnya. Kami berkeliling di bangunan dua lantai sambil celingak celinguk. Ruang yang terbuka kami masuki, foto dan poster yang ada kami nikmati. Adik saya sampai berkomentar, rumah zaman dulu ini banyak sekali kamar mandinya, ya? :) Kepada seorang petugas keamanan yang berada di depan gedung, akhirnya saya bertanya tentang acara napak tilas proklamasi, dan saya pun diarahkan ke kantor museum di bangunan belakang rumah utama.

Di kantor itu saya menjumpai Ibu Nenny dan Ibu Finna, panitia acara napak tilas tahun ini. Waktu saya menyatakan keinginan agar siswa SMART EI bisa ikut napak tilas proklamasi, bukan saja keinginan itu bisa dipenuhi, tapi bahkan kami ditawari pula untuk ikut napak tilas "penculikan" Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok! Kabarnya ada sekolah yang sudah terdaftar, kemudian membatalkan keikutsertaan siswa-siswa dan guru pendampingnya, pada hari kegiatan ini, yaitu Kamis,15 Agustus 2013. Wah, ini melebihi harapan kami, sebenarnya. Maunya sih kesempatan ini diambil (saya juga belum pernah ke Rengasdengklok, lho! *ga ada yang nanya :p). Tapi berhubung undangan ikut acara napak tilas ke Rengasdengklok itu diberikan cukup mendadak, sulit bagi saya melakukan koordinasi dengan pihak asrama dalam waktu yang singkat itu.

Singkat cerita, kami mendapat undangan resmi untuk berpartisipasi dalam napak tilas proklamasi tahun ini. Esoknya saya pergi ke sekolah, mengurus peminjamam mobil dan izin keluar asrama,  Nama-nama sepuluh  sepuluh siswa yang akan ikut sudah diumumkan, diiringi perasaan sedih beberapa siswa lain yang berharap bisa ikut juga. Ternyata oh ternyata, saat keberangkatan hari Jumat pagi (16/8), "Dua orang batal ikut," lapor ustadzah  Uci yang mengantar dari sekolah. Uhh, pasti mereka menyesal, karena acara napak tilas ini begitu seru dan bikin ketagihan, hehe...

Ini saya kirim fotonya dulu ya...

Kumpul di tangga

Berfoto bersama di depan foto "empunya rumah", Tadashi Maeda
Haidar dan Ghiffar ikut "hadir" dalam perumusan naskah proklamasi
Menemani pengetikan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia
Foto bareng lagi, bersama perbesaran naskah proklamasi



Persiapan berangkat, dan rombongan napak tilas
Bertemu "pejuang kemerdekaan" saat napak tilas menuju Tugu Proklamator
"Napak tilas" menjadi proklamator
Akhirnya dapat juga ruang berfoto bersama di depan Tugu Proklamator...


Tuesday, July 30, 2013

"Plusplus": Modifikasi Berbagai Model Pembelajaran di IPS Terpadu

Kalau membaca berbagai sumber yang disediakan oleh Kak Google, atau dari para pemateri pelatihan guru  mengenai model2 pembelajaran kooperatif, ada model yang namanya "numbered heads together (NHT)" atau di sini kita sebut saja "kepala bernomor" supaya lebih mudah. Silakan ikut googling sendiri, banyak nian para pengajar yang telah berbagi pengalaman menggunakan model ini dalam pembelajaran di kelas masing2. Jadi bukan saya yang pertama menerapkan, lho (ya iya, lah!). Berbagai materi pembelajaran atau bidang studi juga ternyata bisa menerapkan model ini.

Lalu ada model pembelajaran "jigsaw" atau bongkar pasang. Dalam bentuk pembelajaran kooperatif ini siswa individu menjadi ahli tentang sub-bagian dari satu topik dan mengajarkan sub-bagian itu kepada orang lain. Model lain lagi ada yang namanya "two stay two stray", atau kelompok tamu2an, begitulah biar gampang.

Masing2 model sudah ada langkah dan prosedur sesuai ahli pendidikan yang pertama kali merumuskan atau menjalankannya. Tapi menerapkan begitu saja model2 pembelajaran dengan segala prosedurnya di kelas kita masing2, kok rasanya kurang menantang, ya. Perlu ada modifikasi biar lebih sesuai dengan kondisi lokal. Entah apakah kemudian model yang saya pakai berikut ini masih pantas diaku sebagai "kepala bernomor" plusplus, "jigsaw" plusplus, atau TSTS plusplus, terserah lah, tapi kegiatan belajar yang berlangsung harus bisa memuaskan baik untuk saya maupun para siswa, karena sesuai dengan tujuan pembelajaran dan harapan masing2 pihak :)

Materi kami di kelas IPS Terpadu adalah peristiwa2 seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia.
SK: Memahami usaha persiapan kemerdekaan
KD: (1) Menjelaskan proses persiapan kemerdekaan Indonesia, (2) Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa sekitar proklamasi dan proses terbentuknya negara RI

Hari Selasa (23/7) materi ini saya sampaikan kepada siswa 2B. Kalau tahun lalu (dan tahun lalunya lagi), para siswa saya minta untuk menggambarkan peritiwa2 tersebut dalam bentuk komik yang kemudian dipresentasikan dengan model pembelajaran kelompok ahli, maka tahun ini komik buatan kakak kelas tersebut sudah "naik kelas" sebagai media pembelajaran. Komik ini jelas lebih ringkas dan menarik daripada buku teks (yang saat ini belum siap diberikan kepada semua siswa). Tentunya komik2 ini sebelumnya sudah mendapat "supervisi" dari saya, sudah saya beri masukan dan kritik agar layak sebagai media pembelajaran.

Saya masih membagi siswa2 di kelas dalam empat kelompok. Kelompok A mendapat jatah komik dengan materi jatuhnya bom atom di Jepang, kelompok B mengenai peristiwa Rengasdengklok, kelompok C tentang proklamasi kemerdekaan, dan kelompok D mengenai sidang PPKI pascaproklamasi.

Modifikasi yang saya lakukan pada model2 pembelajaran di atas adalah seperti ini. Setiap anggota dari tiap kelompok yang terdiri dari 5-6 orang, saya minta menguasai materi yang diberikan. Setelah sekitar 10 menit mendalami komik tersebut, saya tunjuk tiap orang dengan nomor tertentu. Jadilah ada siswa A1, C2, B3 atau D5. Prinsip penomoran ini saya jadikan cara distribusi penguasaan ilmu dari masing2 kelompok. Ada tiga orang dari tiap kelompok, yaitu yang bernomor 1, 2 dan 3 untuk bertamu ke tiga kelompok lain, sementara yang bernomor 4, 5 dan 6 sebagai "penjaga rumah" yang akan menerima kunjungan tamu dari tiga kelompok lain. Para tamu dan tuan rumah bergantian menceritakan dan mendengarkan keempat bagian materi. Mereka juga dipersilakan bertanya bila ada cerita yang kurang jelas.

Aziz bercerita tentang peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia di "Rumah Peristiwa Rengasdengklok" yang didatanginya

Abdullah menjelaskan kejadian jatuhnya bom atom di Jepang kepada tamu2 dan tuan rumah di "rumah Sidang PPKI"

Satrio sebagai tamu menanggapi pertanyaan Zikri di "rumah Proklamasi" mengenai jatuhnya bom atom di Jepang

Tuan rumah dan tamu2 lain di "rumah Bom Atom" mendengarkan Yoga bercerita tentang proklamasi kemerdekaan

Saat bercerita ini, ada dua hal yang dituntut untuk dikuasai oleh setiap siswa. Hal pertama adalah eksplorasi kemampuan siswa memahami materi yang diberikan. Hal kedua adalah kemampuan siswa untuk mengoptimalkan kemampuan verbal mereka dengan baik untuk menyampaikan informasi kepada teman lain.

Tidak hanya berbagi cerita dan pengetahuan di antara para siswa, saya juga tetap berkeliling di tiap kelompok dan mengecek kemampuan tiap siswa tentang empat bagian yang telah mereka pelajari bersama. Alhamdulillah, tes lisan yang saya berikan cukup memuaskan, tinggal masalah kerapian bahasa yang belum sesuai EYD masih terdengar dari beberapa siswa.

Besoknya, hari Rabu (/7) giliran kelas 2A dengan materi yang sama.

Di "rumah peristiwa Rengasdengklok", tamu2 mendengarkan penjelasan Dimas tentang proklamasi. 

Haidar bertamu dan menjelaskan tentang bom atom Hiroshima dan Nagasaki di "rumah sidang PPKI"

Rafi menjelaskan mengenai sidang PPKI pada teman2 di "rumah proklamasi"

Ada Bimo, Syam'um, Ibnu, Anggi dkk saling berbagi ilmu di "rumah bom atom"
Selain dua hal yang bisa menjadi indikator kemampuan siswa seperti hal yang dinyatakan di atas, cara belajar seperti ini juga tidak membuat bosan, karena semua siswa bisa "berkeliling", tidak hanya duduk di kursi masing2 untuk belajar. Yuk, kembangkan model pembelajaran yang lain!

Thursday, July 25, 2013

Quantum Learning SMART EI 2013

Ini tradisi tahunan sejak berdirinya SMP SMART EI untuk para siswa baru. Para siswa diajak cara belajar yang asyik, cerdas dan cepat, sebagai pengimbang penyampaian materi yang akseleratif untuk menyelesaikan SMP dan SMA dalam waktu lima tahun.

Guru2 pun mendapat bagian sebagai pemberi materi pelatihan bagi angkatan termuda tiap tahun. Seperti tahun lalu, tahun ini saya dapat tugas mengantarkan materi Speed Reading.


Membaca berita di koran, dan membagikan ceritanya pada teman2

Ada kakak alumni yang berkunjung berbagi pengalaman saat pertama kali datang ke kampus SMART EI
Bintang pertama dalam "perang bintang"

Saturday, July 13, 2013

Langkah Pertama Kami (Angkatan 10 SMART Ekselensia Indonesia)

Sebanyak 44 calon siswa dari seluruh Indonesia telah dinyatakan diterima sebagai angkatan 10 SMART EI untuk tahun ajaran 2013/2014. Namun karena berbagai hal, hanya ada 41 orang yang akhirnya datang dan siap berjuang di kampus SMART EI sebagai pembawa harapan keluarga dan bangsa untuk menerangi masa depan.
Sejak hari Rabu, satu persatu, calon siswa mulai hadir di Parung. Kemarin, Jumat 12 Juli 2013, ke-41 siswa terbaik nusantara 'edisi terbaru' sudah lengkap hadir semua, siap melangkah di kampus perjuangan masa depan.
Kegiatan rutin pertama setelah kumpul ini adalah foto bersama dan latihan nyanyi. Tentu saja masih lagu Mars SMART EI, yang tahun ini diajarkan oleh kakak angkatan 9. Hasil latihan ini pun menjadi materi "manggung" mereka yang pertama sebagai siswa SMART, yaitu bernyanyi di hadapan kepala sekolah dan para panitia daerah untuk seleksi nasional beasiswa SMART EI tahun ini.

Empat puluh satu siswa angkatan 10 SMART EI di hari pertama mereka bersama
Selipan cerita tambahan: ternyata dari 41 anak ini, ada satu yang sudah pernah saya temui hampir dua tahun lalu. Saat itu, Oktober 2011 saya mengisi pelatihan untuk guru2 SD binaan Makmal Pendidikan di Pangkalpinang, Pulau Bangka. Saat itu, Fathurrozie Risky Ananda masih kelas 5 di SDN 40 Kacangpedang, dan sangat membantu saya serta Bu Evi Afifah Hurriyati dalam mengisi pelatihan. Tidak disangka, saat ini Fathur lolos seleksi dan jadi salah satu siswa angkatan 10  SMART EI.
Selamat berjuang, Fathur dan kawan2. Selamat bergabung dgn kumpulan pembelajar sejati!

Fathur dari Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung

Monday, July 1, 2013

Diam-diam Tak Sekadar Diam

Kira-kira satu tahun lalu...
Sore itu, saya memanggil anak2 kelas 2A dan terpaksa mengumumkan pembatalan rencana kami untuk masak bareng. Tadinya, sebagai salah satu bentuk quality time (cailaaah...), antara wali kelas dan murid2 kelasnya, kami akan masak2 bersama, membuat kue dadar alias crépe aneka isi sebagai pengisi waktu setelah ujian kenaikan kelas dan pengisian rapor.

"Maaf, ya. Minggu depan kita batal masak bareng kue dadar," ucap saya kepada Dian, Rozak, Somad, dkk, seusai solat ashar, di tangga masjid Al Insan.
"Ada apa, ustadzah? Kok batal?"

Saya jelaskan bahwa mulai esok harinya, saya harus pamit sepuluh hari mengikuti PLPG di Sukabumi. Sepanjang sepuluh hari di bulan Juni 2012 itu di sekolah bukan hanya anak2 kelas 2A yang terpaksa saya tinggal, melainkan juga ujian kenaikan kelas dan koreksian dua mata pelajaran yang saya pegang. Alhamdulillah, ustadzah Uci yang baik hati sebagai penanggungjawab kurikulum SMP SMART EI bersedia membantu mengganti tanggungjawab saya.

Dian dkk paham; izin kepsek sudah didapat; saya pun berangkat ke Sukabumi. Singkat cerita, PLPG usai (tidak perlu saya ceritakan di sini), dan saya pun kembali ke sekolah. Ujian kenaikan kelas saat itu sudah berakhir.

Materi terakhir IPS Terpadu bersama kelas 2 SMART EI tahun ajaran lalu.

Pagi Senin itu saat saya tiba dari Jakarta, upacara belum dimulai, lapangan depan sekolah masih sepi. Baru beberapa anak yang duduk di tepi lapangan, umumnya para siswa kelas 1 yang masih punya banyak stok "rajin datang awal ke sekolah".
Seorang siswa kelas 1 menghampiri sebelum saya naik ke ruangan saya di lantai 2.
"Assalamu'alaikum, ustadzah. Kok baru kelihatan?" sapanya ramah dengan mata berkilat2 di balik sepasang kacamatanya.
"Wa alaikum salam," balas saya, tertular senyumnya karena anak ini terlihat begitu gembira menyapa. Saya pun mengatakan bahwa saya baru usai menjalankan undangan pelatihan selama sepuluh hari bagi para guru di kawasan Sukabumi.
"Ooo begitu... Pantas saya cari hampir dua minggu, ustadzah nggak terlihat di sekolah."

"Kamu mencari saya? Ada apa?" Maafkan kepo saya yang kumat, sebab saya tidak mengajar kelas anak ini. Jadi cukup geer juga mengetahui ada anak kelas 1 yang cukup rajin "mencari" saya.
"Enggak, Zah. Nggak ada apa2," si ganteng berkulit gelap dan berkacamata ini mendadak salah tingkah. Dia pamit dan berlari ke sisi lapangan tempat teman2nya mulai datang dari asrama. Saya melanjutkan naik dan menyimpan tas saya di ruangan, masih dengan rasa geer ada anak kelas 1 yang memerhatikan ketidakhadiran saya di sekolah. Kalau yang memperhatikan hanya kepsek atau pihak HRD, tidak perlu geer, itu sih tugas mereka, hehe...

Hari berlanjut siang. Saat istirahat solat zuhur dan makan siang, seorang siswa penyendiri dari Sumatera duduk di pojok favoritnya yang terhalang tembok dari pandangan orang lewat. Dia siswa kelas 4, sudah SMA. Saya mengajarnya selama setahun saat dia masih kelas 2. Saat saya melintas hendak membelok ke arah tangga, dia muncul dan menyapa.
"Ustadzah Vera baru sakit, ya?" tanyanya.
"Alhamdulillah, enggak kok. Sehat terus. Kenapa, kok kamu mengira saya sakit?" Demikian guru kepo ini bertanya balik.
"Ooh... Nggak apa2. Saya kira sakit, karena lama nggak kelihatan di sekolah," jawab si rambut ikal bertubuh ramping ini. Nadanya seperti meminta penjelasan. Kembali saya beritahu ttg PLPG, Sukabumi, dll, sebagaimana cerita saya tadi pagi kepada adek kelas 1 SMP itu.

Kakak SMA kelas 4 ini mengangguk-angguk. "Saya baru tahu. Maaf, ustadzah. Saya kira ustadzah pindah kerja."
"Oh, tidak, kok. Kan hanya pelatihan berkala. Minggu depan juga ada ustad lain yang ikut pelatihan seperti ini," saya menyahut sambil menyebut nama seorang guru lain yang mendapat jadwal PLPG berikutnya.
Kakak ini mengangguk lagi. "Iya, alhamdulillah, ustadzah masih mengajar di sini," katanya. Sambil mengucap salam dia berbalik badan, menuju koridor depan lab komputer. Menjawab salamnya, sempat sekilas saya lihat dia tersenyum melangkah dengan gaya khasnya: kepala menunduk dan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

Langkahnya saya pandangi dari belakang. Sebagian besar siswa dan guru masih berada di kantin bawah untuk makan siang. Sepertinya tidak ada satu pun orang yang saat itu melihat kening saya yang biasanya licin ini jadi berkerut (ahaaayyy...)

Iya, sambil naik tangga, saya memikirkan dua anak yang secara khusus menyapa saya hari ini, yang pernah saya ajar setahun di kelas, dan yang setahun berikutnya akan hadir di kelas saya. Di antara 180an siswa di SMART EI ini, mereka terhitung bukan siswa yang menonjol kehadirannya secara akademik. Kualitas baik yang setahu saya sama2 mereka miliki adalah sikap tenang dan tidak suka mengganggu orang lain. Karenanya mereka tergolong penyendiri... jarang diperhatikan guru atau teman.

Walau begitu, rupanya mereka tidak selalu menyendiri dan diam dengan diri sendiri. Diam2 mereka juga melihat dunia sekitar mereka. Diam2 membuat mereka sadar saat ada sesuatu yang hilang, walau yang "hilang" itu hanya saya yang ikut pelatihan selama sepuluh hari. Dan diam2 pun mereka punya keberanian dan kepedulian untuk menyapa, bertanya langsung, ada apa di balik menghilangnya saya.

Sebagai seorang guru tanpa jabatan struktural, hal seperti ini selalu bernilai besar bagi saya. Ada perasaan hangat yang mengalir di hati, karena diperhatikan oleh mereka, meski dari jauh. Semacam ada cinta tambahan dari sumber yang tidak disangka, energi penguat yang bisa diandalkan saat hati sedang gulana.

Ini memang kisah setahun lalu. Sekarang si adek kelas 1 baru saja naik ke kelas tiga, setahun lalu dia hadir di kelas saya masih dengan rasa riang yang sama, tanpa berisik menonjolkan diri di tengah teman2nya. Dia senang menggambar dan menulis,  dengan kemampuan menarasikan kisah yang mencekam.
Si kakak kelas 4, ah ya... Baru bulan lalu diwisuda sebagai lulusan angkatan 5 sekolah ini. Semester mendatang ia akan menempati kursinya di sebuah PTN di Jawa Barat, yang ia dapat melalui jalur undangan. Itu pun setelah sebelumnya guru2 pembimbingnya sempat mengkhawatirkan kemampuannya lulus Ujian Nasional. Sebuah kekhawatiran yang rupanya berlebihan. Semoga di kampus nanti ia bisa lebih meningkatkan empatinya, dan memberi manfaat bagi sekitarnya. Karena dalam diam sebenarnya ia punya cukup banyak cinta bagi dunia.

Monday, June 10, 2013

Kunjungan ke Sekretariat ASEAN dan @america

Hari ini adalah hari terakhir pembelajaran semester genap di SMART Ekselensia Indonesia. Mumpung juga saya sudah menjadwalkan sejak awal semester akan ada kunjungan ke Sekretariat ASEAN, alhamdulillah hari ini jadwal tersebut terpenuhi.

Sebanyak 34 siswa kelas 2 yang sedang mempelajari Organisasi Internasional dan Globalisasi, ikut dalam kunjungan ke gedung yang diresmikan penggunaannya sejak 1981 ini. Guru yang ikut mengantar adalah saya dan ustadzah Uci Febria. Berangkat dari Parung sekitar pukul 7.30 pagi, melewati berbagai titik kemacetan aktivitas lalu lintas Jumat pagi, sempat ditegur polisi karena salah berputar di Jl Jenderal Sudirman (ampun, Pak Polisi... ga lagi deeeh... ) akhirnya kami tiba di Gedung Sekretariat ASEAN lewat pukul 10.

Ihda dan Farid menanti waktu memasuki gedung Sekretariat ASEAN

Kami sempat menunggu di teras, menyaksikan datangnya para istri duta besar negara2 ASEAN berdatangan untuk suatu pertemuan di ASEAN Hall. Sekitar pukul 10.20 WIB kami dipersilakan memasuki ruang Bougainville, untuk menerima penjelasan ttg ASEAN dari staf kunjungan siswa, Ibu Nuraini Soulisa.

Ibu Nuraini Soulisa menjelaskan tentang struktur organisasi ASEAN (foto oleh Uci Febria)
Pemaparan yang disampaikan cukup informatif. Saya aja baru tahu kalau Sekretariat ASEAN saat ini sudah dijabat oleh Vietnam, yaitu oleh H.E. Le Luong Minh, bukan lagi oleh H.E. Surin Pitsuwan dari Thailand. Saya dan para siswa juga baru tahu kalau "kyat" mata uang Myanmar itu disebutkan sebagai "cat" ;)

Siswa SMART berusaha menjawab pertanyaan tentang ASEAN (foto oleh Uci Febria)

Lebih dari satu jam waktu berlalu pun tidak terasa. Apalagi Ibu Soulisa memberi kuis berhadiah suvenir ASEAN untuk mengecek pemahaman siswa. Sayang tidak ada waktu tersisa untuk siswa bertanya mengenai isu2 terkini di kawasan Asia Tenggara seperti konflik di Myanmar, Laut Cina Selatan, atau ACFTA. Alhasil lembar kerja siswa yg sebelumnya saya sebarkan tidak bisa diisi ;(

Sutrisno dan mousepad ASEAN hasil menjawab kuis (foto oleh Uci Febria)
Siswa kelas 2 SMART EI di Sekretariat ASEAN (foto dari ASEAN Secretariat)

Nah, jangan khawatir, masih ada lembar kerja lainnya :D. Seusai solat Jumat di Masjid BPN, kami segera menuju ke Pacific Place. Tujuan kami ke mal ini bukan buat belanja ya, tapi mengunjungi Pusat Kebudayaan Amerika, yang dinamai @america. Sebelumnya, kami berfoto dulu di lobby gedung sekretariat, diambil gambarnya oleh bapak petugas yang berada di lobby.

Foto bareng... :)
Tahap kunjungan selanjutnya: Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, alias @america di Pacific Place, kawasan bisnis Sudirman. Di mal megah ini para siswa dihadapkan dengan sedikit kejutan budaya, yang juga menimpa saya, guru mereka :p. Pertama ada pemeriksaan tubuh dengan detektor metal dan pengecekan isi tas saat hendak memasuki gedung. Kedua, barang jualan yang ada di sini demikian "blink2" dan membuat pening kalau sampai kami tahu harganya, hehe... Jadi kami pasang kacamata kuda, tidak mau tengok kiri-kanan pada barang-barang mewah yang tidak mampu kami beli.

Sampai di suatu pojokan di lantai 3 mal ini di mana @america mangkal, kami sekali lagi melewati pemeriksaan ketat oleh petugas, sebelum kami semua akhirnya masuk dan disambut dan diberi penjelasan oleh Pak Fred mengenai @america ini.


Pak Fred dari @america menyambut siswa SMART EI
Setelah pemutaran video tentang Amerika dan @america, kami dipersilakan untuk mengeksplor fasilitas yang ada di pusat kebudayaan ini. Maka beberapa siswa memanfaatkan dengan meminjam perangkat iP*d untuk menjadi anggota dan memperbarui status di f**book (ga boleh iklan, hehe...)



Tak disangka, di dalam pusat kebudayaan ini kami bertemu tokoh global, salah seorang peraih Nobel Perdamaian abad ini, yang tentu saja adalah warga negara Amerika! Maka, berhamburanlah para siswa mendekat untuk berfoto... dengan patung Barack Obama :)


Foto bareng Mr President of the USA

Ada lembar kerja yang harus diisi siswa sebagai buah tangan kunjungan ini. Tapi itu di cerita lain, ya...